Home PRESS RELEASE Bincang Film; “Kisah Seorang Anak Disleksia”

Bincang Film; “Kisah Seorang Anak Disleksia”

457
4
SHARE

Departemen Pendidikan melalui program kerjanya; Bincang Film  telah menyajikan salah satu film bollywood yang berjudul “Taare Zamen Par” atau dalam bahasa Indonesianya “Seperti Bintang-bintang di Langit” . Sebuah film yang mengisahkan seorang anak disleksia yang sangat kesulitan dalam belajar. Kesulitannya dalam belajar disebabkan karena dia tidak bisa mengenali huruf dan angka dengan baik. Berikut kisah seorang Ihsaan yang telah terangkum oleh catatan fasilitator dari Departemen Pendidikan.

Taare Zameen Par adalah sebuah film yang menceritakan tentang seorang anak berusia 8 tahun bernama Ihsaan Nandkishore Awasthi . Dia menderita penyakit disleksia yaitu kesulitan dalam membaca dan menulis. Dia juga sering dianggap sebagai anak yang nakal dan malas oleh ayah dan juga gurunya. Tak jarang Ihsaan dihukum oleh gurunya karena tidak mengerjakan PR dan sering mendapat nilai yang jelek. Meskipun begitu, ihsaan memiliki satu kelebihan yaitu, dia memiliki imajinasi yang sangat tinggi, berbeda dengan anak-anak yang lain seusianya. Dia juga sangat pandai melukis.

Ihsaan memiliki seorang kakak yang bernama Yohan. Yohan merupakan anak yang cerdas dan berbanding terbalik dengan Ihsaan. Orang tua Ihsaan selalu membanding-bandingkan ihsaan dengan kakaknya. Ibu Ihsaan selalu berusaha untuk mengajari Ihsaan agar lebih memahami pelajaran dengan baik. Akan tetapi segala usaha yang dilakukan oleh ibu ihsaan sia-sia. Tidak ada perubahan yang ditunjukkan oleh Ihsaan. Ihsaan selalu melupakan pelajaran yang telah ia terima.

Pada suatu hari, Ihsaan yang tidak mengerjakan tugas dari gurunya, memutuskan untuk bolos dari sekolah karena takut ia akan dihukum oleh gurunya. Akan tetapi orang tua Ihsaan mengetahui jika Ihsaan telah bolos dari sekolah. Orang tua ihsaan sangat marah dan memutuskan untuk menyekolahkan Ihsaan di asrama. Namun tak ada perubahan yang berarti meskipun Ishaan telah pindah ke asrama. Ia bahkan lebih sering menerima hukuman dari gurunya karena tidak bisa mengikuti aturan yang ada. Ihsaan sudah berusaha untuk belajar dan memahami mengenai apa yang diajarkan oleh gurunya, akan tetapi karena penyakit disleksia yang dideritanya, Ihsaan tetap sulit untuk memahami segala pelajarannya. Karena tekanan yang ia terima dari guru dan ejekan dari teman temannya Ishaan pun menjadi depresi dan seperti kehilangan semangat hidup, bahkan ihsaan sudah tidak mau melukis lagi.

Kemudian pada suatu hari datang seorang guru seni sementara yang bernama Ram Shankar Nikumbh (Aamir Khan) untuk mengajar di sekolah tersebut. Guru baru ini mempunyai cara mendidik yang baru dan menarik yang membuat anak-anak antusias untuk belajar, Ram membuat mereka dapat berfikir secara bebas dan belajar tanpa merasa tertekan. Setiap anak di kelasnya merespon dengan antusias yang besar kecuali Ishaan. Ram kemudian berusaha untuk memahami Ishaan dan masalah-masalahnya. Ram yang pertamakali menyadari bahwa Ishaan menderita penyakit disleksia. Ram menyadari kondisi Ishaan karena dulunya ia pun mengalami gejala disleksia. Padahal, sebenarnya seseorang yang mengalami disleksia memiliki kemampuan intelegensi yang tinggi. Jika tak diasah dengan kesabaran dan keterampilan dalam mendidik, maka sang anak akan terus terjerat dalam ketidaktahuan dalam membaca dan menulis. Ia mecontohkan tokoh-tokoh dunia yang mengalami disleksia sehingga meningkatkan semangat Ishaan dalam belajar. Dengan waktu, kesabaran dan perawatan Ram berhasil dalam mendorong tingkat kepercayaan Ishaan. Dia membantu Ishaan dalam mengatasi masalah pelajarannya dan kembali menemukan kepercayaan yang hilang. Ia mampu mengajak anak didiknya itu memahami dan menyeberangi lautan ilmu dengan proses yang menyenangkan.

Ram pulalah yang menyadarkan orang tua Ishaan bahwa anaknya mengalami disleksia. Setelah menemui orang tua Ishaan, Ram kemudian memohon kepada Kepala Sekolah (asrama) agar Ishaan diberikan kemudahan dan tidak dikeluarkan. Dimana ia nantinya yang akan membantu Ishaan agar dapat membaca dan juga menulis. Kemudian untuk meningkatkan kepercayaan diri Ishaan dan memperlihatkan kelebihan Ishaan dalam melukis, Ram mengadakan lomba melukis bagi seluruh guru dan murid di asrama tersebut.

Pada saat pengumuman pemenang dalam lomba melukis tersebut, Ishaan keluar sebagai pemenang. Hasil lukisannya dan juga lukisan Nikumbh dipakai sebagai sampul buku tahunan sekolah tersebut. Selain itu di akhir sekolah, nilai-nilai Ishaan pun tidak lagi di bawah rata-rata. Ia sudah mampu bersaing dengan teman-temannya. Orang tua Ihsaan sangat bangga kepada Ihsaan dan berterima kasih kepada guru Ram yang telah membuat anaknya mampu membaca dan menulis bahkan menjadi anak yang luar biasa dan dibanggakan oleh semua orang.

 

Kisah seorang anak disleksia ini sangat menyentuh hati. Tak heran jika film ini mengandung pesan moral yang sangat kuat dan mengajarkan kita untuk selalu bersyukur atas anugrah yang telah diberikan oleh-Nya. Melalui kisah Ihsaan kita bisa lihat bahwa peran orang tua sangat penting dalam masa tumbuh kembang anak. Peran guru pun tak kalah pentingnya sebagai orang tua kedua bagi anak. Setiap anak pastilah berbeda antara satu dengan yang lainnya. Mereka memiliki kemampuan, bakat, dan impian yang berbeda beda. Jadi jangan pernah kita menilainya hanya dari satu sisi saja karena setiap anak adalah spesial.

Sebagai orang tua hendaknya mendukung agar anak dapat berkembang menurut bakat alami yang ada dalam diri mereka bukan dengan paksaan dan ambisi dari orang tua. Film ini juga membuat kami para mahasiswa(i) untuk lebih melek lagi mengenai pengasuhan. Karena kita kelaklah yang akan menjadi pendidik untuk anak-anak kita.

“Seorang anak disleksia hanya kehilangan huruf dan angka, bukan kehilangan masa depan”

 

 

4 COMMENTS

  1. I love your blog.. very nice colors & theme. Did you design this website yourself or
    did you hire someone to do it for you? Plz answer back as I’m
    looking to create my own blog and would like to know where u got this from.
    many thanks

LEAVE A REPLY