Home PRESS RELEASE KOTAK SUARA KARDUS, AMAN ATAU RAWAN?

KOTAK SUARA KARDUS, AMAN ATAU RAWAN?

357
0
SHARE

Kotak suara pemilu 2019 yang disebut terbuat dari kardus sedang ramai dibahas di media sosial. Pembahasan soal kotak suara ‘kardus’ ini dipertanyakan oleh beberapa pihak. Ada yang mempertanyakan dananya hingga keamanannya. Direktur Relawan BPN Prabowo-Sandiaga, Ferry Mursyidan mengatakan bahwa “jangan sampai terkesan bahwa terfasilitasi untuk berbuat curang, kotak itukan berfungsi menyimpan dan mengamankan surat suara. Jika terjadi apa-apa, ketika terbuat dari kardus, kerawanannya bagaimana? carilah yang lebih aman.”

Namun KPU menegaskan bahwa keputusan membuat kotak suara kardus itu juga diambil setelah melalui Rapat Dengar Pendapat dengan DPR. Menurut KPU, semua fraksi setuju dengan kotak suara kardus itu. Kardus kedap air yg jadi bahan pembuatan kotak suara juga ditegaskan berbeda dengan kotak kardus mi instan ataupun yg serupa. Kotak itu disebut mampu menahan beban hingga 80 kg.

Untuk membahas hal tersebut, Divisi Pengaderan Himpunan Mahasiswa Administrasi Niaga telah melaksanakan salah satu program kerjanya yaitu Arisan Wacana sebagai wadah untuk menyuarakan pendapat dari teman-teman mahasiswa Administrasi Niaga mengenai kotak suara kardus tersebut pada hari Selasa, 15 januari 2019.

Wacana mengenai kotak suara kardus yang sedang hangat diperbincangkan itu menimbulkan pro dan kontra. Saudara Rafli dari pihak kontra membuka diskusi dengan menyampaikan pendapatnya bahwa “Saya setuju, karena kotak suara hanya digunakan untuk menyimpan suara saja. Dengan menggunakan kotak suara kardus maka dapat mengurangi biaya yang dikeluarkan oleh pemerintah. Kita juga harus memperhatikan efisensi harga dari suatu barang apa lagi barang ini dalam jumlah banyak”.

Pendapat Saudara Rafli mengenai efisiensi harga disetujui oleh Saudara Rigas dari pihak kontra ia mengatakan bahwa, “Saya sepakat masalah anggaran. Tapi pertanyaan saya apakah masalah anggaran ini lebih penting dibandingkan dengan siapa presiden kita 4 tahun kedepan?” Saudara Wandi dari pihak yang sama juga menambahkan bahwa, “Pemilu dalam himpunan ini sama saja dengan mubes dimana pengambilan keputusan dan pemilihan tertinggi. Dalam hal ini bukan hanya jujur dan efesiensinya tapi kita juga harus memperhatikan dalam beberapa keadaan di mana bukan karena terjadi kecurangan contohnya: terjadi kebakaran karena arus listrik atau orang merokok sembarangan misalnya. Kalau alasnaya untuk hemat biaya,itu sangat di sayangkan karena masa sih anggaran makan anggota DPR biayanya bisa besar-besaran sedangkan  pemilu yang menentukan siapa dan bagaimana kedepanya negara kita sangat diminimalsirkan. Di sini juga KPU berperan untuk memperbaiki mindset masyarakat tentang pemilu ini akan berjalan dengan aman dan kardus yang digunakan juga aman”.

Saudara Ronal kembali menambahkan, “Jangan selalu saja berfikir tentang efensiensi biaya.Tetapi kita juga harus berfikir dan mempertimbangkan keselamatan kotak suara tersebut. Contoh jika terjadi konflik, kantor KPU tiba-tiba terbakar. Jadi bagaimana keselamatan kotak suara tersebut? Pasalnya kotak suara diakabarkan hanya tahan air namun tidak tahan api.”

Dia juga mengatakan bahwa, “Di Indonesia segala jenis keputusan mengarah kepada DPR setelah itu baru bisa disahkan. Hal ini sudah mendapat persetujuan dari DPR. Namun yang menjadi pertanyaan apa dasar dari DPR sehingga dia menyetujui pemilihan presiden dan wakil presiden ini menggunakan kotak suara kardus?”.

“DPR menyetujui ini dengan pertimbangan agar mengurangi jumlah pengeluaran dari pemilu itu sendiri.Dikarenakan pemilu kali ini di lakukan secara bersamaan dengan perwakilan daerah”. Jawab Saudari Reni sebagai fasilitator.

Saudara Wira dari pihak kontra mengatakan bahwa, “Alumunium dan kardus sama-sama akan terbakar jika terjadi kebakaran, namun hal itu pasti sudah ada jaminan dari KPU atau DPR” Saudara Rifki dari tim kontra juga menambahkan,“Kotak suara yang terbuat dari kardus ini sudah pernah digunakan pada tahun-tahun sebelumnya. Lantas kenapa masih diperdebatkan lagi? Selain di Indonesia ternyata kotak suara kardus juga digunakan di Amerika Serikat dan beberapa negara lain”

Sekarang yang menjadi kebingungan di masyarakat ialah mengapa pada tahun-tahun pertama pemilu menggunakan kotak suara kardus kemudian pemilihan selanjutnya menggunakan alumunium lalu sekarang kembali lagi dengan kota suara kardus. Ini yang harus dipertanyakan kepada KPU.” Ujar Saudara Ronal.

Catatan untuk KPU dan DPR ialah bagaimana menumbuhkan kesadaran memilih dengan dewasa dalam demokrasi oleh masyarakat dan seharusnya jauh-jauh hari memberikan penjelasan atau pemahaman tentang demokrasi bersih. Mungkin pemilian selanjutnya untuk mengurangi segala bentuk kecurangan, KPU dan DPR bisa menggunakan pemilihan umum secara online.

 

Berdasarkan diskusi dari teman-teman, penulis dapat menyimpulkan bahwa kotak suara kardus bukan pertamakalinya digunakan di Indonesia.Yang harus diperhatikan adalah bagaimana pengawalan dan penjagaan kotak suara tersebut dengan baik dan juga bagaimana masyarakat Indonesia menggunakan hak pilih mereka secara baik tanpa ada paksaan dan untuk DPR dan KPU sendiri bagaimana memperbaiki mindset masyarakat tentang kotak suara karadus akan tetap aman digunakan pada pemilihan umum tahun ini.

 

LEAVE A REPLY