Home PRESS RELEASE Bedah Film: Jembatan Pensil

Bedah Film: Jembatan Pensil

1141
9
SHARE

JEMBATAN PENSIL

Film ini menceritakan kisah persahabatan Ondeng dengan Inal, Askal, Ria dan Yanti, yang diantara mereka memiliki keterbelakangan dari segi mental dan fisik (tuna netra)  yaitu Ondeng dan Askal.
Namun dibalik kekurangan yang mereka miliki, tidak membuat mereka malas untuk belajar di sekolah, tetapi menjadikan mereka selalu bersemangat untuk menuntut ilmu setiap harinya. Ondeng yang memiliki kelebihan dalam hal menggambar, terus berjuang meraih apa yang dia inginkan. Hal ini membuat kita sadar bahwa pendidikan adalah hal yang penting untuk semua orang. Film ini memberikan penggambaran kepada kita semua terhadap wajah pendidikan yg jauh dari mutu pendidikan yg layak. Sebagaimana dalam sajian cerita dalam film tersebut, mimpi seorang anak dengan keterbatasan fisik yg dimiliki tidak menghalanginya untuk bermimpi, mimpi seorang anak yg mangharapkan adanya jembatan sebagai fasilitas pendukung yg dapat menghubungkan desa kecilnya dengan sekolah tempatnya ia menuntut ilmu.

Adapun pendapat dari beberapa teman-teman setelah menonton film ini yaitu:

Dari film tersebut kita dapat melihat persahabatan yang saling melengkapi dan kegigihan mereka dalam bersekolah. Dalam film ini juga dapat menjadi kritikan kepada pemerintah yang ternyata masih banyak daerah pelosok yang tidak memiliki fasilitas penunjang untuk mendukung pendidikan yg berkualitas guna regenarasi SDM yg unggul.

Kesimpulan yang dapat kita petik dalam film ini yaitu:
Film ini mengajarkan kita arti persahabatan yang saling melengkapi, menghargai dan kegigihan dalam mencapai sesuatu. Baik buruknya sesuatu yang terjadi memiliki makna tersendiri, oleh karena itu jangan pernah menyerah untuk menggapai cita-cita yang di inginkan. Sebagai generasi muda perlulah kesadaran terhadap diri krn panggilan manusia sejati adalah menjadi pelaku yg sadar, yang bertindak mengatasi dunia Sebagaiamana perspektif paulo freire dalam pendidikan yg berpijak atas penghargaan. Pendidikan yg merupakan fasilitator dalam mewadahi dialog maka tiap2 peserta didik yg berhikmat di dalamnya harus mampu memahami realitas atas kesadarannya guna membuka suasana dialogis yang mampu membuka cakrawala terhadap realitas dunia.

9 COMMENTS

LEAVE A REPLY