Home PRESS RELEASE Hikmah Perjalanan Baginda Nabi Muhammad SAW ke Sidratul Muntaha

Hikmah Perjalanan Baginda Nabi Muhammad SAW ke Sidratul Muntaha

595
40
SHARE

Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa penting yang pernah dilalui oleh Nabi Muhammad S.A.W. dengan maksud perjalanan spiritual dalam waktu semalam saja. Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan dari Mekkah ke Masjidil Aqsha, dan kemudian ke Sidratul Muntaha.

Isra berarti perjalanan di malam hari, sedangkan Miraj berarti naik atau diangkat ke Sidratul Muntaha. Di malam itu, Rasulullah bersama Malaikat Jibril melakukan perjalanan dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Palestina. Lalu, Nabi diangkat ke langit ke tujuh untuk bertemu dengan Allah. Isra Miraj yang setiap tahunnya diperingati oleh umat Islam adalah perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW.

Dengan menunggangi Buraq dan ditemani malaikat Jibril, Nabi Muhammad naik ke langit hingga lapis ketujuh, yaitu Sidratul Muntaha. Ini dilakukan dalam waktu satu malam, tepatnya pada Senin  27 Rajab tahun 621 M. Isra Mi’raj merupakan salah satu peristiwa agung dalam sejarah kenabian Baginda Nabi Besar Muhammad SAW.  Saking agungnya peristiwa tersebut, sampai-sampai direkam dalam  surat al-Isra’ ayat 1 di mana Allah SWT berfirman:

سُبۡحَـٰنَ ٱلَّذِیۤ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَیۡلا مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِی بَـٰرَكۡنَا حَوۡلَهُۥ لِنُرِیَهُ مِنۡ ءَایَـٰتِنَاۤۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِیعُ ٱلۡبَصِیرُ

Artinya:

“Maha Suci Dzat yang telah menjalankan hamba-Nya di waktu malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya untuk Kami perlihatkan kepadanya (Muhammad) tentang ayat-ayat Kami. Sesungguhnya Dia adalah Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS: Al-Isra’ ayat 1).

Isra Miraj dilakukan hanya dalam waktu satu malam dengan mengendarai buraq, yaitu makhluk yang ditunggangi oleh Nabi Muhammad SAW dan Malaikat Jibril menuju Sidratul Muntaha dengan kecepatan yang luar biasa.

Pada perjalanannya, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan para nabi lainnya. Saat membuka pintu langit pertama, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Adam. Lalu, di langit kedua bertemu dengan Nabi Isa dan Yahya. Beranjak ke langit ketiga, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Yusuf. Setelah itu, di langit keempat dan kelima, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Idris serta Nabi Nabi Harun. Naik ke langit keenam, Nabi Muhammad bertemu dengan Nabi Musa. Sampai di lapisan langit ke tujuh, Nabi Muhammad disambut oleh Nabi Ibrahim, yang sekaligus menemaninya ke Sidratul Muntaha. Sesampainya disana, Nabi Muhammad mendapat perintah dari Allah SWT untuk melaksanakan salat 50 waktu dalam sehari semalam. Setelah mendapat wahyu tersebut, Nabi Muhammad SAW turun ke langit keenam dan kembali bertemu dengan Nabi Musa. Mendengar Nabi Muhammad SAW mendapatkan perintah salat 50 waktu dalam sehari dari Allah SWT, Nabi Musa menyarankan Nabi Muhammad SAW untuk kembali ke Sidratul Muntaha dan meminta keringanan. Nabi Muhammad mengikuti saran Nabi Musa dan kembali lagi ke Sidratul Muntaha. Permohonan keringanan Nabi Muhammad dikabulkan oleh Allah SWT dengan dikuranginya 5 salat dalam sehari.

Kemudian, Nabi Muhammad SAW kembali turun ke Nabi Musa dan mendapat saran yang sama. Nabi Musa masih merasa umat Nabi Muhammad SAW tidak akan mampu mengerjakan salat sebanyak 45 waktu dalam sehari. Nabi Muhammad SAW lalu kembali lagi ke Sidratul Muntaha dan meminta keringanan. Lalu, Allah mengabulkan permintaan Nabi Muhammad SAW. Setelah itu, Beliau turun untuk menemui Nabi Musa lagi. Masih mendapatkan saran yang sama, Nabi Muhammad sampai bolak-balik antara Sidratul Muntaha dan langit keenam berkali-kali. Akhirnya, Allah memerintahkan kepada seluruh hambanya lewat Nabi Muhammad SAW untuk mengerjakan salat 5 waktu dalam sehari.

Sebenarnya, Nabi Musa masih menyarankan Nabi Muhammad SAW untuk meminta keringanan kembali. Namun, Nabi Muhammad SAW merasa malu kepada Allah SWT karena bolak-balik meminta keringanan. Beliau menerima perintah Allah untuk menjalankan salat 5 waktu dalam sehari.

Perjalanan spiritual Nabi Muhammad SAW ini mungkin tidak terpikir oleh logika dan nalar manusia biasa. Tetapi, wajib untuk dijadikan pelajaran bagi umat Islam. Semoga peristiwa Isra Miraj di atas dapat membuat Anda semakin mengetahui sejarah Islam dan asal usul sholat 5 waktu. Semoga dalalam sajian pendekatan epistemology mengenai isra Miraj kita mampu untuk lebih mengetahui dan mendekatkan kita kepada sang pencipta.

Perlu diketahui bersama bahwa dari penjelasan panjang mengenai sejarah yang secara runut dijelaskan mulai dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Palestina. Lalu, Nabi diangkat ke langit ke tujuh untuk bertemu dengan Allah. Tentunya mampu untuk kita resapi bahwa dalam istilah yang biasa kita gunakan khusus mahasiswa kita mengenalnya dengan perjalanan Horizontal dan perjalanan vertical atau yang biasa disebutnya “habluminallah” dan “habluminannas”  atau dengan kata lain hubungan antara manusia dan hubungan kepada sang pencipta. Mengapa dalam al-quran dijelaskan bahwa dirikanlah sholat bukan laksanakan sholat? (QS. Al-Bayyinah:5)

Kisah Isra Miraj: Langit Cemburu pada Bumi lalu Merayu Tuhan agar Dikunjungi oleh Rasulullah

Menariknya, tidak saja sebatas perjalan Sang Nabi dalam tempo semalaman–dari Mekkah ke Baitul Maqdis kemudian ke langit sampai ke langit ketujuh–, tetapi peristiwa Isra Miraj juga melibatkan “dialog” antara langit dan bumi.

Ya, ada sebuah kisah atau penjelasan lain, bahwasanya dalam peristiwa tersebut juga terjadi dialog antara langit dan bumi yang mengklaim paling mulia, sehingga berharap agar dikunjungi oleh ciptaan Allah SWT yang paling mulia pula, yaitu Nabi Muhammad SAW.

Dialog antara langit dan bumi ini, seperti dikatakan oleh Syekh Utsman Ibn Hasan al-Khoubawy dalam kitabnya Durrotun Nasihin, merupakan musabab terjadinya Miraj Nabi SAW. Dalam kitab tersebut dijelaskan dialog antara langit dan bumi yang saling mengklaim paling mulia sebagaimana berikut:

Aku lebih baik darimu (langit), karena Allah SWT telah menghiasiku dengan hamparan pulau, lautan, sungai, pepohonan, pegunungan dan lain sebagainya,” kata Bumi.

Maka, berkatalah langit, “aku lebih baik darimu (bumi), karena matahari, bulan, bintang, falaq (garis edar), buruj (gugusan bintang), arsy (singgasana-Nya), kursy (kekuasaan-Nya) dan surga berada padaku.

Seolah tak mau kalah, Bumi kemudian membalas, “dan padaku ada Baitullah (Ka’bah) yang selalu diziarahi dan digunakan untuk melaksanakan ibadah thawaf oleh seluruh para Nabi dan Rasul, ulama, ahli hukum, para pembesar dan orang-orang yang beriman.”

Sejurus kemudian, Langit berkata, “dan padaku ada Baitil Ma’mur, yang digunakan thawaf oleh seluruh malaikat, dan padaku ada surga yang menjadi tempat para arwah Nabi dan Rasul, ulama yang mengamalkan ilmunya, para hukama, para pembesar dan orang-orang saleh.”

Maka bumi pun menjawab, “sesungguhnya pemimpin para Rasul dan penutup para Nabi, kekasih rabbil alamin berada padaku, dan syari’atnya berjalan di atasku”. Ketika mendengar jawaban tersebut, Langit terdiam dan tidak mampu menjawab. Ia lantas mengadu kepada Allah SWT, “Ya Allah, Engkau Maha mengijabah doa hamba yang butuh ketika berdoa, kini aku tak mampu menjawab bumi. Maka aku mohon agar Engkau sudi menaikkan Nabi Muhammad SAW padaku, sehingga aku bisa berbangga kepada bumi dengan Mi’rajnya Nabi SAW.”

Allah SWT yang kemudian mengabulkan permintaan langit dan memberikan wahyu kepada malaikat Jibril, tertanggal malam 27 Rajab. Allah SWT memerintahkan kepada malaikat Jibril, “wahai Jibril, bawalah padaku Nabi Muhammad SAW.” Jibril lalu bergegas bersama Mikail ke Surga. Sewaktu tiba di surga, keduanya melihat 40.000 Buraq sedang memakan rumput surga, tetapi Jibril dan Mikail melihat satu Buraq yang selalu menundukkan kepalanya dan menangis dengan air mata yang deras.

Malaikat Jibril kemudian bertanya kepada Buraq tersebut, “wahai Buraq, ada apa denganmu?”

“Wahai Jibril, aku telah mendengar seorang hamba yang bernama Muhammad SAW selama 40.000 tahun. Entah mengapa aku jatuh cinta dan merindukan pemilik nama ini. Sejak itulah, aku butuh makanan dan minuman karena aku telah terbakar api kerinduan”, terang Buraq.

Jibril kemudian berkata, “aku akan mempertemukanmu dengan orang yang kau rindukan tersebut.”

Malaikat Jibril kemudian membawanya bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, untuk melakukan perjalanan Isra’ Mi’raj dari bumi (Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha) ke langit, hingga menembus sidratul muntaha.

Begitu agung dan mulianya manusia yang bernama Muhammad SAW, sampai-sampai langit dan bumi-pun mengklaim paling mulia satu sama lain, semata agar dikunjungi oleh Rasulullah SAW. Bahkan, seperti dikabarkan riwayat di atas, Buraq-pun telah merindukan berpuluh-puluh ribu tahun momentum tersebut.

Oleh karena itu, mari kita selalu mendengungkan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW supaya, kelak, mendapatkan syafa’atnya di akhirat dan selalu dijaga oleh Allah SWT. Allahumma Sholli Wassallim Wabarik Alaih.

Himpunan Mahasiswa Administrasi Niaga mengucapkan selamat memperingati Isra’ Mi’raj bagi seluruh umat islam.
Semoga di hari isra dan miraj Nabi ini kita selalu mendapat syafaat Rasulullah dengan meneladani akhlak beliau.

#HMAN #PNUP #familyforever

LEAVE A REPLY