Home PRESS RELEASE Rintihan Mahasiswa Dalam Menanggapi Kebijakan Birokrasi

Rintihan Mahasiswa Dalam Menanggapi Kebijakan Birokrasi

453
30
SHARE

Sejumlah Perguruan Tinggi (PT) telah menjadwalkan UTS pada awal maret hingga pertengahan april. Ujian yang sedianya terjadwal di kampus dan dilaksanakan dengan tatap muka tidak mungkin dilakukan untuk sementara ini.
Mengingat fakta penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang semakin hari kian mengkhawatirkan, hal itu kemudian membuat seluruh kampus membatasi ataupun sekiranya lockdown di lingkungan kampus mereka guna melakukan upaya percepatan penanganan Covid-19 ini. Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP) terhitung dalam upayanya memutus mata rantai penyebaran virus ini telah beberapa kali melakukan penambahan kebijakan dan perpanjangan surat edaran.
Surat edaran yang belum lama ini terbit pada tanggal 20 April kemarin, memberikan putusan tentang “Kegiatan Akademik dan penyesuaian jam kerja menggunakan model SHIFT dalam rangka Penerapan PSBB di kota makassar” yang berdasarkan pada keputusan Menteri kesehatan Republik Indonesia Nomor JK.01.07/MENKES/257/2020 Tertanggal 16 April 2020 tentang Penetapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di wilayah Kota Makassar Provinsi Sulawesi Selatan.
Covid-19 yang mewabah saat ini tentunya sangatlah berdampak pada proses akademik di Perguruan Tinggi (PT). Tak heran jika banyak mahasiswa memberikan tanggapan berbeda jika UTS dilakukan secara daring, ada yang siap, ada juga yang justru belum siap sama sekali. Sebab, materi saat belajar dengan metode daring mereka banyak mendapatkan kesulitan.
Salah seorang mahasiswa PNUP, Muh. Nurul Ihsan, yang biasa disapa (Iccang) Jurusan Administrasi Niaga, mengaku merasa terbebani dalam pemberian tugas terkhusus pada wilayah mata kuliah praktek, “sangat susah mengerjakannya karena tidak ada pembelajaran langsung atau penjelasan yang lebih detail dari dosen yang bersangkutan,” tegasnya.
Tambahnya, harapan saya kuliah daring kedepannya tidak menitikberatkan pada tugas ke mahasiswa namun sebisa mungkin ada dialog/kesepakatan yang dibangun oleh mahasiswa dan dosen. Adapun bentuk pelaksanaan UTS bisa ditinjau kembali, dikarenakan ada beberapa mahasiswa yang terkendala masalah jaringan pada saat pelaksanaan kuliah ataupun UTS.
Harapan terakhir saya kepada kampus yaitu, “memenuhi hak mahasiswa seperti pengadaan kuota karena sampai saat ini fasilitas kampus enggan untuk digunakan sementara waktu, jangan sampai nilai mahasiswa semester ini bergantung pada kuota dan jaringan yang dimilikinya”. Mengingat adanya kesepakatan kerjasama yang dibangun oleh PNUP dengan PT Telkomsel yang dalam penyediaan layanannya diberikan insentif paket data sebanyak 30 GB yang secara khusus hanya dapat mengakses Website e-learning secara Gratis, namum dalam pemgimplementasian kebijakan itu tidak sesuai dengan poin yang dijabarkan pada surat edaran kemarin, sehingga perlunya kontrol yang dilakukan oleh sipembuat kebijakan atas realisasi kebijakannya tersebut. Ada apa dengan medium yang disarankan?
Serupa dengan Hasna yang juga mahasiswa jurusan Administrasi Niaga yang di bawah satu tingkat dari informan di atas, menerangkan bahwa kuliah online tersebut kurang efektif dikarenakan saat pembelajaran berlangsung baik melalui WA, google meet, dsb. Kadang tanpa disadari oleh dosen beberapa mahasiswa sibuk chattingan di grup kelas, chat pribadi, makan, ataupun melakukan aktivitas lain tanpa sepengetahuan dosen dengan hanya memanfaatkan fitur non-aktif video, sehingga materi yang dijelaskan oleh dosen tersebut tidak sampai ke mahasiswa, melainkan hanya sebagai formalitas dalam mengisi jadwal perkuliahan dan kehadiran mahasiswa. Selain itu, UTS yang dilaksanakan secara online juga tidak dapat dikatakan bahwa nilai yang di dapatkan murni dari mahasiswa, karena UTS online membuka peluang bagi mahasiswa untuk menghalalkan banyak cara untuk mendapatkan nilai yang mendekati sempurna di akhir semester, pungkasnya.
Tambahnya, namun yang dapat menjadi perhatian kita saat ini ialah kualitas layanan internet disetiap daerah yang tidak sama tergantung provider layanan apa yang digunakan, walaupun biaya yang digunakan mungkin sepadan. Mengingat banyaknya mahasiswa asal daerah yang sudah lama meninggalkan kota Makassar, tentunya mereka mengatakan bahwa tidak ada jaminan kami bertahan di kost, katanya.
Dari dua sumber informan diatas semoga sedikit mewakili suara hati mahasiswa terkhusus mahasisiwa jurusan Administrasi Niaga yang selama ini cukup banyak mendapatkan gelombang tendensi tugas dari dosen. Dari uraian dan pendapat diatas jika dikorelasikan pada kebijakan Direktur yang termaktub di dalam surat edaran yang terbit pada tanggal 15 april 2020 dengan Nomor : B/829/PL10/KM.01.00/2020 tentunya tidak sesuai pada apa yang termaktub dan apa yang terlaksana dilapangan. Lantas Adakah kebijakan kampus yang sekiranya bisa memberikan kompensasi per-mahasiswa ? toh kami tidak menggunkan fasilitas kampus sebagaimana harusnya.
Penulis berharap, sekiranya UTS dapat di formulasikan dengan metode ujian yang sejalan dengan pencapaian pembelajaran serta melakukan penyesuaian atas materi yang telah disampaikan selama perkuliahan daring, UTS merupakan instrumen dalam mengevaluasi mahasiswa, tidak melulu harus ada. Modelnya bisa diganti dalam bentuk kuis atau tugas mandiri yang sekiranya dapat dijamin keorisinilan tugasnya dengan hal itu memberikan sentuhan evaluasi untuk melihat sejauh mana integritas mahasiswa(i), itu semua tentu bisa menjadi aspek penilaian, tergantung dari perencanaan pembelajaran masing-masing dosen yang disepakati bersama dengan mahasiswa. Kita tak tau kapan pandemi ini berakhir, para ahli yang saat ini berusaha memprediksi kapan pandemi ini akan selesai. Lantas yang menjadi pertanyaan besar saat ini adalah bagaimana sebenarnya indikator keberhasilan untuk mengukur kualitas dalam proses belajar daring ini? tercapaikah mutu pendidikan yang sebenarnya? What do you think ?

Ada yang menarik di sosial media saat ini dengan jargon-jargon yang dilemparkan oleh banyak mahasiswa di sosial media “kampus lockdown, kuliah on, tugas smackdown, kuota down, mahasiswa down”. Dari apa yang disampaikan banyak mahasiswa di sosial media disini saya sedikit akan menyinggung soal pernyataan dari apa yang disampaikan oleh informan pertama di atas mengenai kemitraan yang di bangun oleh PNUP bersama dengan Telkomsel yang tentunya ada korelasinya juga mengenai jargon di atas “kuota down, mahasiswa down” perlu kita ketahui bahwa sebenarnya hal itu merupakan program telkomsel sebagai wujud kepedulian mereka kepada masyarakat dengan kondisi pandemi saat ini. Dengan program Corporate Sosial Responsibility (CSR) mereka mengusung tema “Di Rumah Terus Jalankan Kebaikan”, dengan frame tema itu banyak aspek yang menjadi perhatian mereka, yang pada intinya merupakan wujud kepedulian mereka terhadap masyarakat selama pandemi ini berlangsung. Sektor pendidikan juga tak luput dari perhatian mereka dalam memastikan aktivitas belajar di rumah secara mandiri. Namun sekali lagi penulis merasa cukup skeptis dalam menanggapi hal ini, bahwa yang namanya corporate jelas berorientasi pada profit/laba walau kondisi yang sangat pekik seperti ini, sebisa mugkin mereka membuat langkah strategis dalam melihat hambatan sebagai peluang pasar untuk memperkenalkan produk layanan mereka, toh ini hanyalah langkah taktikal mereka yg sifatnya sementara. Maaf saja jika saya mengatakan bahwa ini merupakan sebagai strategi pasar dengan bubuhan pijakan logika bisinis di dalamnya, This is business.

Beruntung kampus kita digandeng oleh korporasi yang memang pada dasarnya bermaksud menerapkan CSR mereka. Lantas jika tidak ada yang menggandeng, sekiranya apa yang akan di lakukan kampus?

Entahlah… 🙁

Namun segala dinamika yang tersampaikan di atas ada hal yang paling terpenting saat ini adalah dengan adanya alternatif perkuliahan seperti ini dosen dan mahasiswa dapat dengan baik menyesuaikan perubahan iklim belajar yang menurut saya kekinian, tentunya hal ini memberikan hikmah dan makna yang berbeda. Kondisi ini benar-benar menggambarkan masa depan dengan platform alternatif solusi yang ditawarkan, mungkin inilah salah satu hikmahnya kita mendapatkan pengetahuan baru.

*TERIMA KASIH*

Penulis : Alamsyah

LEAVE A REPLY