Home PRESS RELEASE Pandemi dan Sastra

Pandemi dan Sastra

126
8
SHARE

Pada saat terjadi pandemi Coronavirus Disease (COVID-19) segala sektor kehidupan semakin meredup, terutama dalam bidang kesehatan dan ekonomi, pemerintah harus bekerja ekstra keras untuk menanggulangi masalah yang sangat serius ini terlebih pada bidang ekonomi yang membuat perekonomian masyarakat semakin menurun, akibatnya banyak karyawan swasta yang di rumahkan bahkan terkena  Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) serta pengusaha mikro yang harus menutup tokonya.

Segala permasalahan kemudian muncul karena ini merupakan suatu musibah yang harus mengonsep alur  kehidupan, baik pemerintah dan masyarakat tidak siap untuk menghadapi permasalahan yang sangat rumit ini.

Krisis ekonomi melanda negara Indonesia, sehingga masyarakat harus memutar otak untuk tetap survive di tengah pandemi COVID-19 ini. Terkait hal tersebut, tujuan setiap orang adalah bagaimana untuk tetap menghasilkan uang agar dapat memenuhi kebutuhan perut.

Ironisnya, kebanyakan orang justru menghalalkan segala cara untuk sesuap nasi, masyarakat tidak lagi mengindahkan aturan protokol kesehatan demi mendapatkan bantuan dari pemerintah. Lagi-lagi titik permasalahan ada pada soal perut, padahal Sujiwo Tejo pernah berkata “Jika kau khawatir besok tidak makan itu adalah bentuk penghinaan terhadap Tuhan.”

Kita tidak akan membahas lebih lanjut terkait argumen dari Presiden Jancukers ini, yang lebih penting adalah banyak dari kalangan pemuda  kemudian mengambil langkah untuk mulai menulis dengan tujuan mendapatkan penghasilan dari karya yang telah dibuatnya, sehingga yang bermunculan adalah penulis-penulis musiman sebab kondisi saat ini yang memaksanya untuk menulis bukan berangkat dari sentuhan jiwanya.

Media sosial kini dibanjiri berbagai poster perlombaan sastra yang kebanyakan mengangkat tema terkait COVID-19 dengan mengiming-imingi hadiah berupa uang tunai kepada pembacanya, hal ini mengungkung kebebasan berpikir dan berimajinasi.

Rohnya adalah fee, ya tentu saja. Seberapa banyak fee semakin banyak pula tulisan yang dihasilkan seperti halnya hukum penawaran dalam ekonomi semakin tinggi harga maka semakin banyak jumlah barang yang tersedia, sastra lantas takluk pada ekonomi. Sastra menjadi barang komoditas yang dilandasi pada keuntungan semata.

Terlepas dari hal tersebut itu tidak menjadi urusan penting lagi, yang lalu biarlah berlalu, kita tidak dapat mengembalikan air sungai ke hulu, matahari ke tempatnya terbit, seorok bayi ke perut ibunya, air susu ke payudara sang ibu, dan air mata ke dalam kelopak mata.

 

Khusus sastra, kita hanya perlu kesadaran bahwa sastra bukanlah semata-mata karangan biasa. Sastra merupakan sebuah jiwa dan penulisnya adalah pemberi jiwa. Sastra bisa membuat kericuhan menjadi perdamaian serta mampu menembus pikiran orang banyak, terlebih sikap kita terhadap media-media saat ini, haruslah skeptis makanya dengan sastra lagi-lagi kita mampu mengubah paradigma masyarakat.

Benar jika kita sepakat bahwa sastra itu menyejukkan, sesejuk ketika menangisi dosa-dosa yang telah diperbuat. Riset telah membuktikan bahwa puisi (sastra) dapat mengendurkan denyut jantung dan irama napas jadi harmoni (Internatioal Journal of Cardiology 06/09/2002).

Oleh karena itu, jadikanlah sastra sebagai pemberi hidup dan semangat dalam menghasilkan karya-karya yang menggugah jiwa seseorang, sehingga kita mampu menulis segala kenangan  dan membungkus rapi dalam buku sejarah kehidupan.

Lebih baik tidak menulis daripada memperkosa kebenaran,kemajuan. (Chairil Anwar)

 

Dansa Pena
Berirama Intuisi
Gelitik Imajinasi
Lahir Karyacipta

Penulis            : A. Wira Hadi Kusuma
Orang biasa yang merindukan sosok Chairil Anwar

8 COMMENTS

LEAVE A REPLY