Home PRESS RELEASE Titik Balik Dinda dan Kanda

Titik Balik Dinda dan Kanda

761
7
SHARE

 

Titik balik Dinda dan Kanda

Sore hari itu seperti biasanya ketika perkuliahan telah usai dan kebetulan program kerja yang diadakan oleh himpunan sedang tidak ada, Saya kemudian duduk santai di gubuk “Biasanya anak-anakka ngumpulki untuk diskusi,tapi kenapa tong tidak ada hari ini”Gumamku dalam hati. Tak lama kemudian tiba-tiba seseorang menepuk pundakku ,seketika itu saya pun tersentak “hampir-hampir saja saya pukuli” tetapi melihat mukanya ternyata dia adalah senior dan kemudian menyalaminya meskipun sebenarnya masih dalam keadaan kaget.

Dia pun duduk, kami pun bercakap-cakap sambil menyuruh saya untuk memperhatikan wujud fisik dari bangunan yang  berwarna hijau dan tidak lama kemudian mendeklarasikan sebuah argumen dengan penuh wibawa layaknya Bung Tomo yang mengobarkan semangat pada pertempuran 10 November “ Himpunan itu ibarat sebuah rumah kontrakan”.

Perkataan subjektif  keluar dari mulut beliau yang bernama Hengky Dwi Suryatno kerap disapa Kanda Hengky  kemudian melanglang buana ke arah pemikiranku yang belum memahami makna  perkataan itu. Beliau melanjutkan interpretasinya bahwa himpunan itu ibarat sebuah rumah kontrakan yang pada akhirnya kau akan keluar ketika masa berlakunya telah selesai dan apa yang kamu mau lakukan ketika nanti telah sepakat untuk menempati rumah ini.

Sejak saat itulah, arah pemikiran saya kemudian dibelokkan oleh beliau mengingat pernyataannya begitu tersentuh ke sanubariku.

Perkataannya senantiasa menghantui pikiranku seakan-akan saya harus menelusuri dunia ini untuk mendapatkan jawaban tersebut. “Ah” pikirku,itu adalah sebuah tindakan yang berlebihan ketika muncul semangat yang menggelora.

Hari demi hari berlalu

Tibalah saat dimana saya telah sepakat dan menempati rumah kontrakan yang dikatakan oleh Kanda Hengky, segudang pembelajaran dan pengalaman yang diberikan oleh pejuang-pejuang himpunan membuat karakter dan arah pemikiran pun berubah sangat drastis.

Pada keheningan malam ditemani secangkir kopi hangat dan sebatang rokok kretek, tiba-tiba terlintas di pikiran saya mengenai perkataan kanda hengky sewaktu di gubuk. Sejenak berpikir dan membayangkan himpunan yang luasnya hanya sekitar 3 x 4 meter “Apakah himpunan ini rumah kontrakan atau kamar kontrakan yang akrab disapa dengan kamar kos oleh kalangan mahasiswa”Tanyaku

Kuhembuskan asap cerutu dan pikiranku mulai mencoba untuk menginterpretasikan makna dari sebuah himpunan yang kuibaratkan dengan “Kamar Kontrakan” bahwa saya senantiasa diberi pilihan-pilihan ketika berada di dalamnya, yaitu :

Gerak atau diam, pikir atau picik, benar atau salah, berani atau takut, nyaman atau suntuk, suka atau duka, baca atau main ,karya atau gaya.

Intinya di tempat yang sederhana inilah saya bisa menjadikannya sangat luas dengan cakrawala, Pemikiran dan Pergerakan. Begitu pula sebaliknya bisa menjadi sempit dengan hanya sekadar diam diri tanpa mengetahui tujuan berada di kamar kontrakan ini.

Akhirnya kuucapkan terima kasih kepada Himpunan yang pada hakikatnya adalah pejuang-pejuang yang berada di dalamnya yaitu pejuang saat ini, pejuang sebelum era ini dan pejuang yang akan datang. Tak lupa saya ucapkan beribu terima kasih kepada kakanda Hengky yang sebajik arti namanya, seramah wujudnya dan sebaik rasanya yang memberikan pelajaran berharga sewaktu itu.

Ilmu itu laksana air, jika kau simpan akan bau
dan jika kau alirkan akan senantiasa segar

Semoga celoteh ini memberikan motivasi sekaligus sebagai pembelajaran kepada pejuang-pejuang yang akan melanjutkan roda kepengerusan ke depannya agar Himpunan atau Kamar Kontrakan ini senantiasa memberikan warna tersendiri terhadap eksistensinya.

“Kamu dapat menyembunyikan kenangan, akan tetapi kamu tidak akan bisa menghapus jejak langkah bagaimana kenangan itu dibuat”. Kata Haruki Murakami

 

Salam Perjuangan!!!
Salam Pergerakan!!!
Dan Salam Familyforever!!!

Penulis : A. Wira Hadi Kusuma
Orang biasa sekaligus pelajar yang khawatir jika harga pulpen mengalami kenaikan.

7 COMMENTS

LEAVE A REPLY