Home PRESS RELEASE Di Toko Buku Itu

Di Toko Buku Itu

72
0
SHARE

Di perjalanan, riang mentari beralih murung. Kegelapan awan mengambil segalanya dan kemudian menghamburkan kesedihan yang tak terbendung, seorang pemuda menghentikan kendaraannya tepat di depan toko buku.

Tak banyak orang berteduh di tempat itu dikarenakan pekarangan toko hanya dapat menampung tiga motor, hanya bapak ojol yang sedang menghisap kreteknya sembari memegang smartphonenya menunggu pesanan.

Tak lama berselang, tiba-tiba muncul seorang perempuan berumur  kira-kira 70 tahun memberikan kursi kepada Bapak ojol dan pemuda itu, seraya mengucapkan terima kasih lalu duduklah mereka. Sangsi dengan kondisi, si pemuda mengeluarkan sebuah buku dan kemudian terlelap dalam bacaannya.

Asyik dengan buku yang digenggammya, kantuk pun menghampiri dan kemudian dia mengambil sebatang kretek di saku baju dan membakarnya. Hembusan asap membuat rasa kantuk lenyap seketika, sementara didekatnya Bapak ojol masih setia menunggu notifikasi dari smartphonenya.

Hujan turun semakin derasnya, entah mengapa dinamakan hujan. Saat ini mungkin petani bersuka cita menyambut tetesan air mata langit, namun nelayan justru berduka dengan kedatangannya. Hujan memiliki kejutan tersendiri baik itu kebahagiaan ataupun kesedihan.

Tiba-tiba di pojok toko terdengar suara, “Nak, kamu senang membaca buku?”

“Tidak juga nek, hanya sedang mengisi waktu luang sambil menunggu hujan redah.” Jawab si pemuda tersebut.

“Semakin hari minat baca merosot tajam, jarang kita jumpai orang-orang mengenggam buku. Mereka disibukkan dengan teknologi canggih sehingga kebanyakan orang lebih senang memamerkan barang canggihnya, nongkrong di restoran mahal daripada berkunjung ke toko buku atau perpustakaan, hal itulah nak membuat toko buku sangat langka dan boleh dikatakan punah. Saat ini buku bukanlah bahan pokok bagi setiap orang melainkan hanya barang sekunder, tetapi apa yang kamu lakukan ini cukup bagus nak daripada kamu hanya duduk kosong.

Nenek pemilik toko buku ini?” tanya si pemuda.

“Iya Nak.” Dengan amat serius perempuan tua itu kembali bertanya “Kamu tahu nak, mengapa orang terdahulu dapat menguasai dunia.

“Uang dan Kekuasaan Nek.” Jawabnya dengan yakin.

“Terus saluran untuk mendapatkan keduanya? Tentunya dengan isi yang kau genggam itu Nak.” Ucap si nenek seraya matanya yang terteju ke arah buku yang digenggam si pemuda tadi.

Ceritanya semakin menarik dengan nenek tersebut layaknya seorang guru memberikan pembelajaran kepada muridnya, hujan tak kunjung redah dan Bapak ojol semakin menikmati hisapan kreteknya, tak tau sudah berapa batang dibakarnya. Perempuan tua itu melanjutkan argumennya sembari si pemuda mendengarkannya dengan penuh khidmat.

Asalnya kolonialisasi teristimewa soal rezeki, yang pertama-tama menyebabkan kolonialisasi ialah hampir selamanya kekurangan bekal hidup dalam tanah airnya sendiri, begitulah Dietrich Schafer berkata. Kekurangan rezeki itulah yang menjadi sebab rakyat-rakyat Eropa mencari rezeki di negeri lain, namun sayangnya “Mentalitas budak yang diwariskan kolonial pada zaman penjajahan masih berakar di jiwa kita, masyarakat tenang-tenang saja dengan kondisi saat ini nak.”

“Padahal tugas pemerintah adalah mewujudkan sila kelima dari pancasila yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, seharusnya kesejahteraan dinikmati setiap lapisan masyarakat.” Sambung Bapak ojol yang sedari tadi hanya diam mendengarkan.

“Tetapi bangsa ini tidak kekurangan orang berilmu, karena keluasan ilmunya justru duduk di pemerintahan ditambah lagi setiap tahun perguruan tinggi mencetak generasi yang membuat negeri ini lebih baik dengan ilmu dan keahlian dimilikinya.” Cetus si pemuda.

“Iya betul nak. Jika ilmu itu dipegang oleh orang yang tepat, lalu bagaimana jika sebaliknya? Salah satu dosa sosial dipaparkan Mahatma Gandhi adalah pengetahuan tanpa karakter bahwa banyak orang memiliki cakrawala ilmu, namun terkadang perbuatannya tidak mencerminkan keluasan ilmunya.” Nenek melanjutkannya.

Hujan pun redah, sinar mentari kembali mulai nampak di permukaan bumi. Bapak ojol bersiap menjemput rejeki dan si Pemuda itu  memasukkan buku ke dalam ranselnya.

Sebelum si Pemuda itu melanjutkan perjalanan, si Nenek memberikan petuahnya. “Nak, kamu harus ingat perkataan yang pernah disampaikan oleh Gus Mus, bahwa negara ini bernama  Indonesia adalah rumahmu maka kamu harus merawatnya dengan baik dan mengambil teladan dari Mahatma Gandhi mengenai Nasionalisme, bahwa “Buat saja, maka cinta tanah air itu, masuklah dalam cinta pada segala manusia.” Ucap si Nenek. “Jadilah seperti  hujan yang kedatangannya senantiasa bermanfaat bagi penduduk bumi dan kepergiannya akan dirindukan.” Lanjutnya.

Pemuda itu menyerahkan kembali kursi kepada nenek dan kemudian menyalaminya beserta Bapak ojol, tak lupa menghaturkan terima kasih atas pembelajaran yang telah diberikan untuknya.

Di tengah perjalanan pulang, pikirannya bersabung sembari bertanya-tanya. Jika zaman dahulu sistem penjajahan kasar dinamakan kolonialisasi, apakah saat ini penjajahan secara halus bernama Globalisasi?

Ah entahlah, biarkan sang waktu yang menjawabnya.

 

 

Penulis: A. Wira Hadi Kusuma

SHARE
Previous articleHARI PAHLAWAN
Next articleHARI GURU NASIONAL

LEAVE A REPLY