Home PRESS RELEASE Pro Kontra Artificial Intelligence

Pro Kontra Artificial Intelligence

271
2
SHARE

Artificial Intelligence (AI) atau sering disebut dengan kecerdasan buatan sudah tidak asing lagi di era industri 4.0. Tapi tak banyak yang orang menghawatirkan perkembangan teknologi, khususnya AI ini sendiri yang diduga dapat menyingkirkan manusia dari pekerjaanya, sebagaimana makin hari semakin banyak buktinya, seperti diuraikan Yuval Noah Harari dalam “ Homo Deus”.  Banyak orang khawatir robot dengan AI dapat menyingkrikan, memperbudak, dan bahkan memusnahkan manusia.

 

Jadi bagaimana kita seharusnya menanggapi hal seperti berikut?

Menurut Maesa Yulianti “ Banyak hal menarik terkait perubahan ini dan tentu saja banyak plus dan minusnya, pertanyaan terbesarnya yaitu apakah AI ini bisa berguna bagi kehidupan, khusunya manusia? Dan ada apa dengan kondisi manusia sekarang?. Bagi sebagian orang kehadiran AI dapat membantu pekerjaan-pekerjaan manusia serta mengurangi kesalahan-kesalahan dalam pengerjaannya. AI juga memiliki keuntungan potensial yang besar, dengan revolusi teknolgi kita dapat memperbaiki kerusakan yang terjadi dialam yang disebabkan oleh industrialisasi sehingga mampu mengurangi angka penyakit dan kemiskinan. Namun, tak sedikit pula yang bernada negative tentang pengembangan AI yang dilakukan dengan sangat massif seperti saat ini. Beberapa orang mengklaim bahwa AI bisa sangat berbahaya bagi peradaban manusia, sehingga pada akhirnya semakin pada akhirnya masih banyak pekerjaan manusia yang diambil alih oleh para robot. Pengembangan perlu adanya tapi jika tidak dibatasi akan sulit juga untuk mengendalikannya. Jadi bijak-bijaklah akan sebuah perubahan besar ini dan memanfaatkan sebaik-baiknya untuk memudahkan kelangsungannya.”

AI sendiri dimuali dari seorang bernama Mc Carthy yang saat ini disebut sebagai bapak “AI” yang memulai mengembangkan hal tersbut semasa kuliahnya pda tahun 1948, lalu semasa lulus ia mulai mendirikan dua lembaga penilitian kecerdasan buatan. Kedua Lembaga AI itu adakah Stanford Artificial Intrllugence Leboratory dan MIT Artificia Intelegence Leboratory. Beliau juga merupaka dosen dari kedua universitas internasional tersebut.

Pada tahun 2017 sendiri dunia dihebohkan dengan kabar bahwa Facebook memberhentikan eksperimenya setelah salah satu staf menemukan dua buah program AI mereka saling berkomunikasi satu sama lain dengan bahasa ciptaan mereka sendiri yang tak dimengerti manusia. Bahkan Ilmuwan terkenal seperti Stephen Hawking mengakui bahwa AI ini akan setara dengan kecerdasan manusia, bahkan melebihi. Juga terdapat implikasi negative AI terhadap kemanusiaan dimasa depan. Walaupun demikian, ilmuwan tentuk dapat mengontrolnya dengan pengawasan super ketat. Nah, yang menjadi masalah adalah bagaimana ilmuwan mwmbatasi dirinya sendiri. Inilah mengapa suatu consensus terkait etika pengembangan AI perlu dipertimbangan secara serius. ( https://www.google.com/amp/s/www.dewaweb.com/blog/kecerdasan-buatan/amp/ )

 

Dari beberapa aritikel yang bisa kita temukan di kolom pencarian google, begitu bayak hal kontra yang menyangkut perkembangan teknologi ini sendiri, tapi tak banyak juga hal yang akan menguntungkan manusia apabila teknologi tetap dikembangkan.

Kita sebagai manusia yang berevolusi hanya perlu menyiapkan diri untuk berbagai kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dimasa depan. Kita hanya perlu menyesuaikan diri dengan keadaan yang akan terjadi entah itu hal yang baik maupun sebaliknya.

Kita tidak dapat memprediksi masa depan, tapi kita dapat menyiapkan diri kita untuk kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dimasa yang akan datang” – Ika Indarwati

 

#HMANPNUP

#HMAN

#PNUP

#Familyforever

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY