Home Hari Besar Tahun Baru Imlek

Tahun Baru Imlek

72
2
SHARE

Tahun Baru Imlek merupakan perayaan terpenting orang Tionghoa. Perayaan tahun baru imlek dimulai pada hari pertama bulan pertama (Hanzi: 正月; pinyin: zhēng yuè) di penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh 十五暝 元宵節 pada tanggal ke-15 (pada saat bulan purnama). Malam tahun baru imlek dikenal sebagai Chúxī 除夕 yang berarti “malam pergantian tahun”.

Sejarah tahun baru Imlek
Menilik sejarah, sebelum Dinasti Qin, tanggal permulaan Tahun Baru Imlek masih belum jelas. Kemudian, kaisar pertama China, Qin Shi Huang menetapkan bahwa tahun Tionghoa berawal di bulan 10 pada 221 SM. Hingga akhirnya pada 104 SM, Kaisar Wu (pemimpin Dinasti Han) menetapkan bulan 1 sebagai awal tahun, sampai sekarang. Salah satu alasan penetapan tanggal itu karena melihat mayoritas masyarakat Tiongkok bekerja sebagai petani. Sehingga, perayaan Tahun Baru Imlek dapat dinikmati oleh semua orang di mana pun berada secara serentak.

Makna Tahun Baru Imlek
Imlek merupakan perayaan yang dilakukan oleh para petani di Tiongkok untuk menyambut permulaan musim semi setiap tahun. Di momen ini, mereka mengucapkan rasa syukur dan doa harapan agar mendapat rezeki berlimpah di tahun depan. Mereka pun berkunjung ke makam para leluhur dengan membawa persembahan berupa makanan dan minuman. Lalu, sembahyang di tempat ibadah, berdoa pada dewa dan dewi, serta menjamu sejumlah kerabat dan tetangga. Karena itulah, sampai saat ini Hari Raya Imlek identik dengan pertemuan semua anggota keluarga. Seperti halnya perayaan dari agama dan budaya lain, Imlek dimanfaatkan untuk silaturahmi dan saling berbagi. Perayaan Imlek pun diharapkan mampu memperkuat tali kasih keluarga untuk memulai lembaran kehidupan di tahun baru.

Tahun Baru Imlek Di Indonesia
Di Indonesia sendiri, sepanjang tahun 1968-1999, Tahun Baru Imlek sempat dilarang dirayakan di tempat umum. Hal itu diperkuat dengan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 14 Tahun 1967. Dinyatakan bahwa rezim Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto melarang segala hal berbau Tionghoa, termasuk Imlek. Aturan tersebut kemudian dicabut setelah Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia ke-4. Gus Dur memberikan kebebasan merayakan Imlek bagi semua masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia. Melalui Keppres Nomor 19/2001, Imlek ditetapkan sebagai libur fakultatif (hanya berlaku bagi yang merayakan).

Barulah pada 2003, Tahun Baru Imlek resmi dimasukkan dalam daftar hari libur nasional oleh Presiden Megawati Soekarnoputri. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui Keppres Nomor 12 tahun 2014, menghapus istilah ‘China’ dan kembali ke istilah ‘etnis Tionghoa’. Keputusan itu dianggap penting demi menciptakan suasana bernegara yang bebas dari diskriminasi ras dan golongan.

7 tradisi yang biasa dilakukan saat Imlek

  1. Membersihkan rumah

Menyapu rumah berarti juga membersihkan rumah agar kotoran yang dianggap sebagai simbol kesialan disingkirkan, hingga tersedia ruang yang cukup untuk menampung keberuntungan. Setelah itu, mereka akan menyingkirkan sapu dan sikat dari jangkauan. Mereka juga tidak diperbolehkan menyapu rumah saat hari pertama tahun baru karena berarti mengusir keberuntungan yang sudah hadir di rumah.

  1. Wajib memiliki unsur warna merah

Menurut kepercayaan orang Tionghoa, nian atau sejenis makhluk buas yang hidup di dasar laut atau gunung akan keluar saat musim semi atau saat tahun baru Imlek. Kedatangan mereka pun dilanjutkan dengan mengganggu manusia, terutama anak kecil. Namun, jangan khawatir. Menghias rumah, pakaian, dan aksesoris berwarna merah dapat mengusir nian karena ia takut dengan warna merah. Jadi, tidak heran kalau nuansa merah begitu jelas terlihat saat Imlek.

Selain itu warna merah juga memiliki arti akan harapan terhadap hal-hal yang baik di tahun yang baru.

  1. Angpau

Bagi-bagi angpao juga dipercaya makin memperlancar rejeki di kemudian hari. Selain itu pemberian angpao melambangkan harapan orang-orang tua kepada anak muda agar lebih makmur di tahun yang baru.

  1. Mempersiapkan makanan

Kue keranjang dan jeruk juga menjadi ciri khas Imlek. Tidak hanya itu, saat Imlek mereka juga menyajikan makanan di atas nampan berbentuk, segi 6, segi 8, atau bulat dengan isi yang beragam, seperti buah kering, biji-bijian, kacang-kacangan, dan permen. Beberapa orang juga menyiapkan makanan keberuntungan seperti mie yang tidak dipotong untuk melambangkan umur panjang, serta kue bola berbentuk uang Tiongkok pada zaman dahulu yang melambangkan kekayaan. Satu lagi, saat Imlek mereka disarankan untuk menghindari makan bubur karena bagi warga Tionghoa, bubur melambangkan kemiskinan.

  1. Kembang Api

Kembang api merupakan salah satu pertunjukan yang sangat populer untuk memeriahkan Imlek, karena suara gaduhnya dipercaya membuat makhluk jahat ketakutan.

  1. Tidak boleh membalik ikan saat menyantapnya

Kita tidak boleh membalik ikan untuk mengambil daging ikan pada bagian bawah dan juga tidak boleh menghabiskan ikan tersebut dan menyisakannya agar bisa dinikmati esok hari. Masyarakat Tionghoa percaya kalau kebiasaan ini merupakan lambang dari nilai surplus untuk tahun yang akan datang.

  1. Mengunjungi Keluarga Besar

Tidak hanya lebaran, Imlek juga menjadi salah satu momen yang tepat untuk mengunjungi saudara agar tali persaudaraan tidak terputus. Tidak heran jika pada saat-saat tersebut banyak masyarakat dari etnis Tionghoa yang pulang kampung untuk merayakan Imlek bersama keluarga mereka.

Gong Xi Fa Cai!
#HariRayaImlek
#HMANPNUP
#HMAN
#PNUP
#FamilyForever

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY