Home PRESS RELEASE Tanah Air Yang Terlupakan

Tanah Air Yang Terlupakan

262
0
SHARE

Ilmu pengetahuan dan teknologi melaju semakin pesat dengan perangkat kedisiplinan dan spesialisasi. Manusia melakoninya pada masing-masing pos disiplin dengan dalih menyingkap tabir rahasia “ilmu alam” dan hasilnya adalah suatu orde dimana masyarakat dibangun atas dasar rasionalitas yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Kecanggihan teknologi yang dibalut dengan konsumerisme tidak hanya berlaku di pusat industrialisasi (perkotaan), tetapi menjalar pula hingga ke pedesaan. Namun, desa tetap desa yaitu sebagai ladang eksploitasi kaum elite atas nama kesejahteraan rakyat.

Roda zaman bergerak menandakan suatu perubahan. Yah, perubahan adalah hal yang niscaya, tetapi dibalik itu semua memiliki konsekuensi logis yang harus ditanggung. Teknologi yang memudahkan informasi justru merubah iklim kultur pedesaan.

Semangat gotong royong dan berbagi suka duka tidaklah setebal dulu. “Gengsi” merupakan pemicu masyarakat desa berkeinginan hidup lebih modern sehingga mereka berduyun-duyun ingin mencipipi barang kekinian,meskipun hal tersebut bukanlah kebutuhan yang mendesak. Term  kehidupan seketika  berubah bentuk menjadi hedonisme.

Imbasnya kepada generasi pelanjut, yaitu pemuda desa. Orang tua membesarkan anaknya sekadar “mentaati” ego sektoralnya  tanpa memperhatikan kondisi lingkungan sekitar. Namun, bisa jadi para bapak dan ibu “ditaati” oleh pola umum yang berada di lingkungannya.

Tidak sedikit orang tua mengambil keputusan beresiko, menjual sebidang tanah subur demi membiayai anaknya untuk menempuh pendidikan di kota, dengan “modus” kelak masa depannya akan terjamin. Tidak ada yang keliru dari pemikiran tersebut, orang tua mana yang tidak ingin melihat anaknya sukses, memiliki rumah bertingkat, mobil mewah, uang berlimpah, dan perempuan idaman.

Para pemuda desa dengan gelora membara jiwa meninggalkan kampung halaman kemudian mengarungi derasnya arena “judi” perkotaan, demi visi mulia menjadi orang sukses sebelum pulang ke desa. Ironisnya, kota tak semerdu kicauan burung-burung tatkala fajar menyingsing dan tak seindah senja yang diapik oleh gunung-gunung. Kota hanyalah debu-debu kriminalitas dan polusi dari limbah kaum kapitalis.

Kebanyakan pemuda desa yang duduk di bangku perkuliahan justru  terseret oleh arus globalisasi. Gelar “Mahasiswa” yang identik dengan kaum intelektual dihiraukan, mereka hanya menganggap sebagai pelabelan tanpa makna.  Waktunya kemudian  lebih banyak lenyap oleh bersenda gurau, bersenggama dengan smartphonenya, dan berburu pakaian trendy. Intinya mereka lebih mengedepankan keindahan tampilan ketimbang keindahan intelektualitas.

Padahal, kampus merupakan laboratorium sebelum bergelut terhadap realitas sosial. Ladang subur bagi ide-ide brilian guna kelebihbaikan bangsa ini sekaligus tempat berpestanya gagasan-gagasan demi kegembiraan yang hakiki yaitu mencari dan menyampaikan kebenaran.

Mahasiswa kini telah terdegradasi dan krisis identitas. Mengapa demikian?
Mindset yang terbangun adalah menjadi orang sukses. Kata sukses dipersempit oleh “Harta dan Tahta” sehingga cenderung menjadi manusia individualis dan berpikir pragmatis.
Lebih memprioritaskan selembar kertas tanda lulus kemudian  bekerja di ruangan ber-AC dibanding mencurahkan segala pikiran dan tenaga demi pengabdian kepada  masyarakat.

Idealismenya telah terkungkung oleh suatu yang materialis, pikiran tercemari oleh limbah konsumerisme. Mau tak mau, suka tidak suka, mereka dipaksa mengikuti alur zaman dengan modus beradapatasi terhadap lingkungan agar tidak tergerus oleh peradaban.

Apakah ini definisi “sukses” yang dimaksud orang tua kita?
Para orang tua tidak ingin melihat anaknya menderita dan sengsara dengan hidup miskin, tetapi kita perlu menggarisbawahi “miskin” bukan berarti tidak bahagia. Harusnya kita lebih optimis dengan pengetahuan yang kini kita genggam karena ilmu merupakan cahaya sekaligus petunjuk dikala gelap gulita.

Marilah sejenak kita menepi dari rutinitas yang membelunggu, berdiam diri dalam kesunyian, sembari merefleksikan kembali puisi Presiden Malioboro, Umbu Landu Paranggi.

Apa ada angin di Jakarta
Seperti dilepas desa Melati
Apa cintaku bisa lagi cari
Akar bukit wonosari

Yang diam di dasar jiwaku
Terlontar jauh ke sudut kota
Kenangkanlah jua yang celaka
Orang usiran kora raya

Pulanglah ke desa
Membangun esok hari
Kembali ke huma berhati

Pada bait terakhir Umbu mengingatkan kembali agar tidak melupakan tanah kelahiran kita. Membangun desa tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi mengedepankan ilmu pengetahuan dan budaya.
Dan semua itu berawal pada kita “Mahasiswa” yang merindukan kedamaian dan kemakmuran pedesaan, kembali ke desa bukan acara ceremonial belaka hanya pada saat Kuliah Kerja Nyata (KKN) ataupun mudik, melainkan lebih kepada kebaikan generasi mendatang  dengan jiwa patriotisme.

#HMANPNUP
#HMAN
#PNUP
#Familyforever

LEAVE A REPLY