Home PRESS RELEASE Kopi, Rokok dan Buku

Kopi, Rokok dan Buku

111
2
SHARE

Bapak presiden Republik Indonesia yang pertama Ir.Soekarno pernah mengumandangkan suatu kalimat “Aku lebih senang pemuda yang merokok dan minum kopi sambil diskusi tentang bangsa ini daripada pemuda yang kutu buku yang memikirkan dirinya sendiri”. Pernyataan yang dilontarkan oleh Bung Karno memberikan gambaran bahwa betapa tidak senangnya beliau kepada orang-orang dan khususnya kepada para pemuda yang mementingkan ego pribadinya.

Mengapa perbandingannya adalah “pemuda yang kutu buku”?
Kutu buku identik dengan kecerdasan, sangat disayangkan jikalau ide-idenya hanya tersimpan rapi di brankas kepalanya.

Menengok kembali ke zaman perjuangan untuk merebut kemerdekaan, amat pentingnya kolektivitas antar sesama baik itu kaum tua maupun kaum muda berperang gagasan, taktik dan strategi untuk mengusir para penjajah di negeri ini. Dan kalimat pamungkas diatas sebagai peluru untuk menghegemoni pemikiran pemuda agar tidak berdiam diri di bilik rumahnya dan turut andil berjuang demi kebaikan bangsa ini.

Ironisnya, di zaman modern yang serba canggih ini. Buku bukanlah kebutuhan primer bagi mahasiswa, kini ia hanyalah kebutuhan tersier yang begitu sulit didapatkan. Persoalannya bukan berbicara mengenai kemampuan melainkan kemauan. Ketidakberanian mengambil resiko dengan memutuskan hal-hal yang disenanginya merupakan masalah yang tidak mampu ditanggulangi.

Setiap harinya kita lebih sering online di smartphone dibandingkan pada kehidupan realitas, media sosial yang seharusnya bersosial justru membuat kita menjadi individualistik. Kita lebih banyak membahas persoalan di grup-grup dibandingkan bertemu langsung, sehingga ketika bertemu langsung ada semacam kesungkanan saat berbicara maupun diskusi.

“Bung Karno lebih senang dengan pemuda yang merokok dan minum kopi sambil diskusi tentang bangsa ini” dan kalimat tersebut kemudian menjadi budaya di kalangan mahasiswa.

Persoalannya, bagaimana mungkin kita membuka ruang diskusi sementara bahan untuk berdiskusi tidak dimiliki, ibarat seseorang yang ingin membuat makanan namun tidak memiliki bahan untuk dimasak. Inilah yang mengakibatkan diskusi tidak “seksi” lagi, karena setiap orang tidak memiliki referensi atau sumber untuk melakukan diskusi dan yang kebanyakan muncul hanyalah orang berpidato atau berkhutbah.

Kopi, Rokok dan Buku identik dengan mahasiswa, ketiganya memiliki peran dan fungsinya.
Buku merupakan peluru guna melontarkan gagasan saat berdiskusi, sedangkan kopi dan rokok adalah obat ampuh untuk melawan saat rasa kantuk menyerang.

Harusnya kita berpikir, mengapa saat membaca buku mental kita begitu mudah menyerah dengan berbagai alasan, sedangkan untuk bermain game, berselancar di media sosial dan lain sebagainya kita tidak punya alasan untuk menghentikannya.

Membaca buku merupakan modal utama yang harus dimiliki setiap insan terlebih pada kalangan mahasiwa karena bagaimana mungkin kita memberi sesuatu jikalau kita sendiri tidak punya.

#HMANPNUP
#HMAN
#PNUP
#Familyforever

Penulis: A. Wira Hadi Kusuma
Editor: Afni Rahmasari
Designer: Marwan

2 COMMENTS

  1. apalagi mahasiswa sangat identik dengan ketiganya, kopi, buku, rokok dan yg terpenting mahasiswa akan selalu berdiskusi tentang bangsa ini, kerennnn👍👍

LEAVE A REPLY