Home PRESS RELEASE Bintang Itu Tak Bercahaya Lagi

Bintang Itu Tak Bercahaya Lagi

135
3
SHARE

Dusunku terletak di pelosok desa, amat terpencil nan sunyi. Dusun dimana aku dilahirkan. Dan kian bisa dibayangkan kesunyiannya ketika malam tiba, bahwa tak ada arus listrik yang masuk ke dusunku, hanya mengandalkan tenaga surya untuk menghidupkan peralatan-peralatan canggih yang dibeli dari kota.

Ketika sinar mentari menyapa dusunku, aku bergegas berangkat ke sekolah untuk menimba ilmu, sekolah yang berjarak tak jauh dari rumahku. Belajar bersama kawan-kawanku meskipun guru di sekolah kami hanya berjumlah dua orang, maklumlah ruangannya juga terbatas. Dapat digambarkan bagaimana guru kami kewalahan untuk mengatur tingkah laku dari anak-anak dusun yang binal. Dan yang paling miris mengisak jiwa, bendera pusaka merah putih di sekolah kami berkibar di langit bersama sobekannya. Namun, aku tetap bersyukur masih ada sekolah di dusunku walaupun sarana dan prasarananya jauh melampaui dari kata terbatas.

Pulang sekolah selepas menyantap makan siang, aku langsung bergegas menuju ladang membantu etta, inilah profesi utama penduduk dusunku. Disaat masa panen padi telah usai, selanjutnya kacang tanah yang ditanam. Pekerjaan ini mengundang tetesan demi tetesan air keringatku tersungkur ke tanah.  Tetapi aku sangat senang bisa bermain dan berkumpul bersama kawan-kawan di pinggir sawah sehabis membantu etta, mainan ala kadarnya guna menghilangkan rasa lelah.

Dan tak jarang aku dan kawan-kawan hanya duduk manis di gubuk bersama orang tua kami seraya mereka silih berganti bercerita mengenai asal-usul dusunku, aku tak mengerti apa tujuan mereka menyampaikannya kepada kami, namun tak tahu mengapa kedua telingaku ini semakin melebar ketika mendengarnya, begitupun kawan-kawanku yang antusias mendengarkan kata demi kata terlontar dari mulut orang tua kami layaknya sosok ayah mendongengkan anaknya sebelum kedua bola matanya terkatup.

“Kata beliau dusun ini dulunya amatlah kering dan tandus, belum ada rumah, sawah dan sarana lainnya. Hadirnya tempat ini sebagai tempat persembunyian orang terdahulu yang melarikan diri dari perang sengit antara Darul Islam/Tentara Islam Indonesia dengan gerilyanya dan Tentara Nasional Indonesia mengatasnamakan negara guna mencari perlindungan dan penghidupan, dikarenakan tak ada lagi secercah harapan untuk memenangkan peperangan melawan TNI yang memiliki jumlah kapasitas anggota jauh melampaui dari anggota DI/TII. Itulah mengapa penduduk di dusun ini dapat dihitung dengan jari. Dengan semangat gotong royong saling bahu membahu, buyut-buyut kalian perlahan menumbuh suburkan dusun ini dengan ilmu sederhana dan terbatas yang dimilikinya, namun gelora jiwa mereka menembus keterbatasan pikirannya. Hal itu pula yang membuat kami sebagai generasi penerusnya bertahan mempertahankan kultur yang telah ditanam dan enggan beranjak dari tanah leluhur yang penuh dengan magis. Tetapi apa boleh dikata, kami pun harus senantiasa merelakan salah satu diantara kakak kalian dan nantinya kalian untuk menimba ilmu guna membenahi dusun ini perlahan-lahan.”

Itulah sepenggal dari kisah dusunku, menimbulkan sebuah tanya mengapa buyutku lari dari pertempuran itu. Aku hanya dapat menaksir, mungkin beliau tak mengetahui tujuan dibalik pemberontakan yang dilakukannya sehingga dirinya tak ingin berjuang hingga tetes darah penghabisan.

Tahulah kau sekarang, bahwa dusunku berada di kaki gunung. Butuh waktu berjam-jam dari pedesaan untuk bisa sampai ke dusunku, akses untuk menuju ke sana pun amat sulit dan menantang, terlebih lagi pada saat musim penghujan, jalanannya terjal, curam dan berlumpur.

Bila malam menyambut, keadaan dusunku begitu hening dan gelap. Tak ada suara bising, masing-masing penduduk berada di rumahnya, kebiasaanku cuma memandangi bintang-bintang di langit, entah mengapa perasaan ini begitu sejuk disaat melihat gugusan bintang itu.

Aku merasakan bahagia yang begitu dahsyat disaat bintang itu kerlap-kerlip, seolah ia berkedip merayu dan menggodaku untuk menghampirinya. Saat itu aku hanya berharap agar dapat bercengkarama dengannya. Menghabiskan waktu bersamanya, bercerita tentang kehidupan langit yang penuh misteri dan teka-teki.

Saking penasaranku, aku bereksperimen menghitung jumlah bintang di langit, sekadar menguji konsistensi bintang-bintang itu. Ternyata sukar untuk menghitung berlandaskan ingatan apalagi ukurannya bervariasi, maka kuambillah sebatang pensil dan buku untuk mencatatnya. Hari itu aku senang tak karuan bisa memastikan jumlah bintang, keesokan harinya kuulangi lagi namun nahasnya malam itu langit berwarna oranye kemudian menitikan air matanya, momen inilah yang aku benci jika hujan turun malam hari, selain kumpulan bintang tak nampak, dusunku pun jadi korbannya karena tak ada cahaya meskipun setitik. Jadinya aku hanya berdiam diri di bilik kamar sembari menunggu terlelap. Dan hari itu terakhir kalinya aku menghitung bintang.

Setelah menempuh pendidikan dasar di dusunku, etta mengintruksikan untuk melanjutkan pendidikan di kota, selain di dusun hanya ada sekolah dasar ia juga ingin melihatku menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi agar kelak dengan ilmu yang kumiliki dapat merubah wajah dusunku yang tengah dirundung duka meskipun kala itu hati ini merasakan kesedihan yang mendalam karena harus meninggalkan seisi dusun dengan jangka waktu yang terbilang lama.

***

Lamunan tentang dusunku terdistraksi oleh panggilan paman yang mengajak bercengkrama mengenai keadaan dusun kami, maklumlah pamanku ingin kembali bernostalgia dikarenakan telah lama berpisah dan belum pernah sempat berkunjung selama bekerja di kota. Pamanku tersontak kaget sembari tertawa setelah aku menjelaskan keadaan dusunku saat ini, hingga ia berkata bahwa terlalu banyak perubahan yang diperoleh dusun kami semenjak meninggalkan dusun beberapa tahun silam diselingi dengan senyumannya yang merekah.

Di kota, aku menumpang di rumah pamanku. Untung saja jarak dari rumah ke sekolah tidak terlampau jauh sehingga paman tak perlu repot lagi mengantarku ke sekolah. Berbeda dengan sekolah di dusunku, di sekolah ini memiliki fasilitas yang memadai. Tetapi, aku harus beradapatasi dengan lingkungan sekolah karena tugas tidak pernah absen diberikan oleh guru. Ternyata bersekolah di kota tak sesuai dengan ekspektasiku.

Syukur paman senantiasa memberikan motivasi agar aku tidak mengeluh dan berjanji di akhir pekan mengajakku jalan-jalan. Hal itu jugalah yang menjaga semangatku untuk melewati masa-masa awal di sekolah.

Sesuai janji paman tempo itu, malam ini aku diajak jalan-jalan ke pantai. Katanya, pantai merupakan tempat menyegarkan pikiran, menghilangkan kepenatan di tengah hiruk-pikuk perkotaan. Baru kali ini kedua mataku bersentuhan langsung dengan air laut berombak, biasanya aku hanya melihat dari buku pelajaran yang diberikan guru ketika belajar di dusunku dulu.
Aku dibebaskan berkeliaran di pantai, tapi tak tahu mengapa aku hanya duduk merenung sembari memandang bintang bertemankan sepi.

Pikiranku pun mengembara ke dusun tempat dimana awal mula pertemuanku dengan bintang. Namun, benak ini begitu berbeda disaat memandang bintang di pantai ini. Semacam memiliki perbedaan amat drastis antara bintang dusun dan bintang kota atau bintang gunung dan bintang pantai.” Apakah memang demikian?  Ataukah sinar bintang ini tenggelam oleh kerlap-kerlip cahaya artifisial perkotaan?” tanyaku dalam hati.

Kedua bola mataku pun tertuju menatap tajam bintang yang kini melankolis, seolah aku menyampaikan pesan tersirat bahwa seandainya aku berada di posisinya, aku akan mengumpulkan kawan-kawan lainnya dan membentuk aliansi kemudian berdemonstrasi kepada Tuhan mempertanyakan esensi kami era ini.

Wahai Tuhanku, tak ada gunanya lagi kami muncul di malam hari jika manusia itu sudah tidak merindukan kehadiran kami? Buat apa lagi kami bersinar jika telah ada yang dapat menggantikan peranan kami bahkan melebihi intensitas cahaya yang kami hasilkan? Buat apa lagi eksistensi kami jika tak dapat membuat orang bahagia disaat memandang kami? Buat apa lagi kami tetap disini jikalau bukan sebagai pelipur lara?
Kami bercahaya namun pada hakikatnya tidak memiliki cahaya.

Aku begitu yakin pertanyaan-pertanyaan itu sejak lama tertanam dalam benak bintang-bintang itu, tetapi mereka tak memiliki nyali untuk melontarkan pertanyaan tersebut kepada sang pencipta. Selain mereka diciptakan untuk menaati perintah-Nya, bisa jadi pula Tuhan menjawab itu dengan gaya bahasa otoriternya “Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui”.

Holiang-Makassar 2021

Penulis: Andi Wira Hadi Kusuma
Desainer: A. Hasmaniar Mumtazah

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY