Home PRESS RELEASE SASTRA DAN KELUARGA

SASTRA DAN KELUARGA

117
1
SHARE

Sastra dan Keluarga

Tulisan : M.Nawfal

Agaknya sebagian besar dari kita setuju dengan pendapat Gaston Bachelard, bahwa “Suatu tempat tinggal adalah sebuah kawasan yang terkait dengan pikiran, tindakan, ingatan, dan mimpi. Kita mengalami tempat tinggal masing-masing. Kesadaran kita dibuat sitematis oleh historisitasnya, yaitu pertalian mental tiap anggota keluarga, budaya, pandangan, dan keberadaan pada ruang-ruang tempat tinggal. Umumnya, keluarga akan selalu menjadi prioritas (dunia pertama) sebelum disentuh oleh dunia-dunia luar. Sedangkan sastra mengarsip situasi dan kondisi yang tercipta dalam keluarga.

Dalam puisi Joko Pinurbo yang akrab disapa Jokpin memberikan gambaran salah satu keadaan tempat tinggal, sebuah puisi tentang keinginan seseorang agar lebih dekat mengenal keluarganya, tapi juga pribadi yang menghadapi dilema dan keterasingan yang tak terselesaikan. Puisi berjudul “Pertemuan” itu mengisahkan kesulitan orang-orang berinteraksi di tengah habitatnya sendiri, karena kegiatan-kegiatan individual yang melalaikan kehadiran orang lain, walau masih bersama keluarga dalam ruang yang sama.

Ketika pulang, yang kutemu di dalam rumah
hanyalah ranjang bobrok, onggokan popok,
bau ompol, jerit tangis berkepanjangan,
dan tumpukan mainan yang tinggal rongsokan.

Di sudut kamar kulihat Ibu masih suntuk berjaga,
menjahit sarung dan celana
yang makin meruyak koyaknya
oleh gesekan-gesekan cinta dan usia

Betul bahwa tidak ada keakraban serta kenyamanan dalam kondisi tersebut, yang ada hanyalah melodi lesu dari sudut pandang “aku”, yakni representasi terhadap kejenuhan. Hal-hal yang sifatnya indrawi seperti ranjang, popok, celana, dan baju memberi ilustrasi pada yang psikis. Dan selebihnya hanyalah problem-problem yang digambarkan. Hal itu menandakan suatu impresi, bahwa sepertinya tempat tinggal hanya menyediakan ruang yang kurang nyaman, seolah mereka tidak saling mengenal.

Pada momen tersebut subyek seakan mengalami kegagalan romatisme. Ia mengalami “perpisahan” di dalam ruang bersama. Kepahitan subjek ini adalah persepsi bahwa teman hidup paling dekat tidak menawarkan kehangatan pada pertemuan, sebuah pertemuan tanpa perbincangan. Seolah tiap kesempatan adalah percakapan sepele, sambil lalu, bahkan hampir dikatakan nihil. Dengan demikian, bayang-bayang keterasingan semakin nyata. Keterasingan disebabkan oleh pelupaan terhadap teman hidup satu atap.

Dikarenakan sama-sama asing atau sama-sama mengasingkan diri? Persoalannya kemudian adalah rasa enggan, yaitu kurang memikirkan orientasi kolektif dalam ruang milik bersama.

Sepertinya, pengenalan adalah suatu proses identifikasi, ketebukaan saling memahami individu yang satu dengan yang lainnya. Sebuah perjumpaan setidaknya bukan hanya untuk tukar informasi, orang lain bukan sekadar instrumen. Perjumpaan memberi kedudukan pada orang lain sebagai subjek, bukan sekadar objek. Hal ini senada dengan pengertian perjumpaan yang dikemukan oleh Gabriel Marcel bahwa “ Kehadiran sama sekali bukan berarti suatu kedekatan menurut kategori ruang, melainkan suatu pertalian batin antara dua orang atau lebih yang bebas, sehingga masing-masing pihak mampu secara efektif berpartisipasi satu dengan yang lain”.

Sebuah pertalian batin seharusnya menempatkan orang lain tidak hanya mengedepankan asas manfaat. Interpersonalitas tidak cukup dengan hanya memaklumi peran-peran praktis antar individu ketika berada dalam satu atap. Tetapi lebih dari itu, adalah kesediaan untuk terlibat, terikat, dan kerelaan agar terbuka terhadap satu sama lain. Interaksi antar penghuni adalah usaha untuk menembus ruang-ruang yang membatasi, tanpa mencampuri yang privat, tidak membelenggu atau saling asing. Namun, interaksi berarti adanya keterlibatan yang jujur, membaca pikiran, perasaan, dan halangan masing-masing. Bukan bermaksud untuk mencampuri dapur orang lain, namun sebagai tindakan pengenalan dan partisipasi bersama.

Tetapi dialektika individu yang satu dengan individu lainnya senantiasa menciptakan pola-pola khusus dan sedikit rumit. Dan terkadang saling butuh ketetapan, hal-hal yang dapat dimaklumi bersama.
Maka dari itu, terkadang orang membutuhkan tatanan dalam keluarga, yaitu konstitusi yang tidak tertulis guna mengonstruksi secara kolektif.

Tatanan tercipta dari banyak hal, tiap tatanan terkadang beralih jadi tradisi atau kultur yang kemudian diyakini. Tatanan sering hadir dari masa lalu, dan orang di masa kini menerimanya sebagai lakon hidup, yang pasti bahwa tiap masyarakat terdapat tatanannya masing-masing, begitupun dalam keluarga. Hal itu dimaksudkan untuk sebuah cita-cita demi meminimalisir resiko-resiko hidup yang belum pasti. Orang sering menerima ketentuan itu, dan tak jarang mesti memaklumi ketentuan-ketentuan itu, karena amat jarang realitas mudah ditaklukkan. Layaknya sebuah strategi, ketentuan-ketentuan itu dijaga baik secara lisan maupun tulisan.

Akhirnya, pengalaman terhadap keluarga lebih bersifat kolektif, searah dengan yang disampaikan pengarang Keigo Higashino dalam bukunya yang berjudul Keajaiban Toko Kelontong Namiya, bahwa “ Konsep sederhana tentang keluarga adalah, sebisa mungkin mereka harus bersama-sama , tentu saja kecuali mereka berpisah demi mengejar hal positif. Memisahkan diri dari keluarga, entah dengan alasan benci atau kesal, menurut saya bukan wujud keluarga sesungguhnya”.

Meskipun lanjutan ceritanya mengisahkan bahwa anak dari orang tua tersebut memilih melarikan diri di tengah perjalanan, tetapi kedua orang tuanya amat menyanyanginya dengan merelakan nyawanya agar identitas anaknya tidak dikenali.

Karena tempat tinggal adalah fana, tetaplah bersama.

 

Design by Chandra
Penulis by M.Nawfal
📲 Instagram : @hmanpnup
📬 Twitter : @hmanpnup
🎥 Youtube : HMANPNUP
🌐 Website : www.hmanpnup.or.id
______________
UKH JURNALISTIK
HMAN PNUP 2021 – 2022
#HidupiHidup
#HMANPNUP
#HMAN
#PNUP
#FAMILYFOREVER

1 COMMENT

LEAVE A REPLY