Home PRESS RELEASE Hidupi Hidup

Hidupi Hidup

478
4
SHARE

HIDUPI HIDUP!!!

Penulis : A. Yonas Yosaka

“Beberapa manusia yang hidup tak menghidupi hidupnya, dan sebenarnya ia mati.”

Aku berkata-kata maka aku ada. Sebelum memulai perjalanan membaca tulisan ini, persiapkanlah diri untuk menerima kejutan dari kataku, kalau perlu seduh kopi, bakar sebatang rokok dan yang terpenting buang jauh segala beban dalam hidupmu! Kau akan menemukan kengerian, ketersinggungan, bernegasi ataupun tercerahkan saat membaca tulisan sederhana ini. Selamat berbentrokan dengan diri sendiri, selamat membaca.

Suatu hari yang penuh keambiguan, hujan dan terik matahari silih berganti, seakan-akan memberi isyarat pada Pak Tua realis dan Seorang gadis kecil anarkis untuk memulai percakapan kehidupan. Tanpa menunggu nilai jual rupiah naik atau basa-basi ala remaja PDKT, Pak Tua langsung bertanya pada gadis kecil;

 “Mengapa kau tinggalkan jalan yang lurus dan mudah hanya untuk berada di jalan sempit yang sukar ini? Tahukah kau, wahai gadis kecil, kemana akan kau bawa dirimu? Jurang yang tak terhingga bisa saja menantimu di depan sana. Tak seorangpun, bahkan para penjahat, berani menyusuri jalan itu. Tetaplah berada di jalan yang lebar dan terang yang dilalui oleh orang banyak. Maukah kau berada di jalan-jalan yang telah ditentukan, diukur, dan dinamai? Sungguhlah nyaman dan aman untuk berada di jalan semacam itu.”

Setiap pertanyaan berhak memiliki pasangan bernama jawaban, gadis kecil itu-pun menjawab; “Aku muak dengan debu-debu, muak dengan rute yang dilalui oleh orang banyak; muak dengan para pengemudi dan para pejalan kaki yang terburu-buru. Aku lelah melihat kemonotonan semua itu, klakson mobil dan pohon-pohon yang tersusun selayaknya tentara yang sedang berbaris. Aku ingin bernafas bebas, sesuka hatiku, menghidupi hidupku sendiri.” (dijawabnya dengan gestur tubuh sambil menunjuk satu persatu objek yang ia katakan)

Nyali Pak Tua sedikit terguncang mendengar jawaban dari gadis, tak mau kalah sampai disini saja, ia membalas dengan sedikit aparatis, “Engkau takkan bisa mengatur hidupmu sendiri, wahai gadis kecil yang malang. Sungguh tak masuk akal untuk hidup seperti itu. Percayalah bahwa tahun-tahun akan berlalu dan memenuhi semua keinginanmu itu. Kita harus hidup seperti orang biasanya, saling berbagi dengan sesama, seperti juga yang akan mereka lakukan pada kita. Mereka yang menanam gandum tidaklah sama dengan mereka yang membuat roti. Dan para penambang bukanlah orang-orang yang mengemudikan kereta api. Hidup bermasyarakat itu seperti iringan mesin manusia yang sangat rumit, untuk menjalankan fungsinya dibutuhkan kecekatan, perhitungan-perhitungan dan kecermatan. Bayangkan kekacauan macam apa yang akan terjadi bila semua orang ingin hidup sesuka hati mereka! Nerakalah yang akan terjadi apabila setiap orang berjalan di sebuah jalan yang tak pernah dilalui orang lain, dimana rumput liar tumbuh sembarangan dan tak ada seorangpun yang tahu kemana arahnya jalan itu.”

“Wahai, pak tua! Kerumitan hidup di dalam masyarakatlah yang membuatku ngeri. Aku tak ingin diwajibkan untuk bergantung pada seseorang, apalagi berada di bawahnya. Kewajiban semacam itu membuatku jengah, hari demi hari aku tak dapat lagi menahan bebannya. Perasaanku juga merasa kurang nyaman ketika aku dihadapkan pada kenyataan bahwa aku harus menghidupi kehidupan orang lain, mendedikasikan hidupku untuk bekerja bagi kepentingan orang lain; Aku ingin bebas menjalani hidupku tanpa pernah dianggap sebagai pemalas. Aku ingin tidur-tiduran di atas rumput tanpa harus takut oleh polisi. Aku menyukai pohon-pohon, mahkluk hutan, semak-semak dan buah-buahan yang tumbuh disana. Peduli apa aku dengan pabrik roti dan istana- istana yang hanya membuatku jijik? Haruskah aku peduli kemana jalan ini akan membawaku nanti? Aku hidup untuk hari ini dan aku bisa saja menjadi orang yang berbeda esok hari” Gadis kecil dengan penuh kemuakan akan kota dan masyarakat urban, tapi tidak dengan desa yang baginya adalah surga dunia.

”Oh, Gadis kecil yang malang! Orang-orang sebelum kau pernah melontarkan kata-kata yang serupa dan mereka, seperti juga kamu, telah pergi entah kemana. Mereka tak pernah kembali. Tapi tak lama kemudian, di jalan-jalan yang mereka lalui itu, ketika jalan-jalan itu telah dibangun, dan semak-semak liar telah dihabisi, terdapat setumpuk tulang belulang dimana-mana, dan itulah sisa-sisa dari mereka. Memang, mereka memang menghidupi hidup sesuai keinginan mereka, tapi apakah sebanding? Dan sampai berapa lama-kah cara hidup seperti itu bisa bertahan? Coba kau amati asap-asap dari gedung-gedung tinggi itu. Itu adalah cerobong asap pabrik-pabrik yang dibangun oleh manusia. Di sana, jutaan manusia, di dalam gedung bercat putih, besar, dan berventilasi, menjalankan mesin-mesin besar yang menghasilkan barang-barang yang sangat dibutuhkan oleh manusia. Dan ketika malam tiba, manusia-manusia sederhana ini, tersenyum puas setelah sehari bekerja, mereka akan bernyanyi bersama dalam perjalanan pulang. Mereka sadar bahwa keringat yang mereka keluarkan sebanding dengan roti yang akan mereka makan. Lihatlah gedung berbentuk persegi panjang disana, di dalamnya terdapat aula-aula dan ruang kelas; itulah yang dinamakan sekolah, dimana guru-guru tanpa pamrih sedang mempersiapkan anak-anak sepertimu agar dapat mengatasi tantangan-tantangan dalam hidup; anak-anak yang mengambil manfaat dari sekolah-tak bisakah kau mendengar suara manis anak-anak itu sedang menghafalkan pelajaran-pelajaran yang sudah diajarkan? Bebunyian bell dan langkah-langkah kaki berbaris, yang pada saatnya akan mengatasi jalan-jalan sulit di depan mereka, terbuka juga untukmu. Untuk mempersiapkan generasi yang akan berbaris rapi dengan bendera berkibar tinggi di atas mereka, anak-anak ini yang dididik di dalam sekolah agar siap berjuang dan membela bangsa dan negara mereka….. (berhenti sejenak dan penuh tatap) “Begitulah cara-cara bagaimana manusia berkembang, dimana setiap orang bekerja menurut keahlian dan kapasitasnya masing-masing? Tak perlu diragukan lagi, memang, bahwa ada yang namanya penjara dan pengadilan, namun tempat-tempat semacam ini hanya diperuntukan bagi mereka yang tak puas, bagi segelintir pengacau tatanan masyarakat. Perlu kau ingat, bahwa hai semacam ini sudah berjalan lama, bahkan berabad-abad. Inilah peradaban kita—tidak sempurna memang, tapi masih bisa disempurnakan-yang tak bisa kau acuhkan atau lari darinya.” sambung Pak Tua.

Penjelasan panjang Pak Tua membuat Gadis kecil itu untuk melawan argumentasi yang baginya sangat normatif kapitalis, “Maaf pak tua! Atau peduli setan dengan kesopanan! Yang bisa kulihat di dalam pabrik-pabrik yang kau bilang tadi hanyalah segerombolan budak-budak, yang mengikuti aturan-aturan monoton, layaknya aturan-aturan itu adalah ritual mematikan nalar dan nurani, mereka itu budak-budak yang inisiatifnya telah hilang, energi mereka setiap hari dihisap demi kepentingan segelintir orang. Setiap hari aku memperhatikannya, aku semakin yakin kalaulah bohong untuk menyebut aktivitas semacam itu dibutuhkan bagi eksistensi manusia. Dari atas ke bawah, di dalam pengaturan-pengaturan yang hirarkis, hanya satu kata yang dapat didengar-matilah inisiatif individu! Oh ya, tentu saja aku mendengar nyanyian-nyanyian pekerjamu, namun dengan nadanya yang pahit dan itu hanya akan terjadi ketika mereka berhenti di suatu tempat untuk bermabuk-mabukan. Ironisnya, tempat-tempat mabuk itu disediakan oleh para majikan mereka, suatu kebetulan? Suara-suara yang datang dari sekolahmu terdengar seperti keluhan getir dari anak-anak kecil yang bosan yang sebenarnya ingin pergi jauh berlari, menaiki pagar-pagar, memanjat pohon, dan bebas dari horor sekolah. Di dalam seragam-seragam tentaramu hanya dapat kulihat mahkluk-mahkluk yang harga diri individualnya telah dienyahkan. Untuk mendisiplinkan keinginan, untuk menghabisi energi, untuk membatasi inisiatif- ini adalah karakter mendasar dari masyarakatmu, cara-cara inilah yang membuat orang-orang menderita hanya karena satu alasan absurd bahwa masyarakat seperti ini harus bertahan. Mana sih yang kau kategorikan sebagai masyarakat? Dan ketika kau menjumpai orang-orang yang tak dapat mengikuti alur masyarakatmu ini, maka kau akan menempatkan mereka di dalam penjara-penjara yang gelap. Antara “manusia beradabmu” dengan “mereka yang menutup tubuhnya dengan kulit binatang”, mana yang lebih hebat? Yang kedua tak pernah mengenal rasa takut, pabrik ataupun barak, rumah bordil atau bar, juga tidak dengan sekolah dan penjara. Apa yang bisa kau lakukan hanyalah melestarikan dan memodifikasikan mereka hanya dalam tampilannya, takhyul dan nilai-nilai dari masyarakat semacam itu kau sebut sebagai “kebengisan”. Tapi banyak yang kau tak miliki dari mereka; kau tak punya energi dan keberanian mereka, apalagi kejujuran yang mereka punya.”

Pak Tua kembali lagi dengan khas argumentasinya “Aku cukup sependapat bahwa memang ada sisi-sisi gelap di dalam masyarakat. Tapi masih banyak orang-orang berjiwa besar yang mencoba menyuntikan kesetaraan dan keadilan ke dalam fungsinya. Mereka ini sedang merekrut pengikut dan siapa tahu suatu hari nanti mereka bisa menjadi mayoritas. Karena itu, janganlah kau berjalan di jalan-jalan yang terlarang- akan lebih baik kalau kau tetap mempertahankan prinsip-prinsip mulia dari masyarakat, ikutilah aturan-aturan dan mekanismenya. Percayalah, aku ini orang tua yang berpengalaman; sukses takkan hinggap ke orang-orang yang tidak secara sistematis mengejarnya. Sains mengajari kita untuk mengatur kehidupan.Ahli-ahli biologi dan dokter akan mendukungmu dengan formula-formula yang dapat memperpanjang hidup dan kebahagiaanmu. Tidak mempercayai otoritas, prinsip, disiplin, serta perencanaan yang sistematis adalah inkoherensi yang paling buruk.”

Layaknya gadis yang muak akan gombalan pria, ia menyahut “Aku tidak butuh dan tidak ingin kedisiplinanmu. Pengalamanku mengajariku sebaliknya. Melalui pengalamanku sendirilah akan kubangun prinsip- prinsipku dan bukannya darimu atau orang-orang yang mengatakan mereka lebih tinggi dan lebih tua dariku. Aku ingin menjalani hidupku sendiri. Budak membuatku ngeri. Aku membenci mereka yang mendominasi dan Aku muak pada mereka yang membiarkan diri mereka didominasi, la yang membiarkan dirinya dicambuk tak lebih tinggi dari orang yang mencambuknya. Aku menyukai resiko dan ketidakpastian, hal-hal tersebut menggodaku. Diriku bergelora akan petualangan dan aku sama sekali tak peduli akan kesuksesan. Aku membenci masyarakatmu yang birokratis beserta para administrator, milyuner, dan para pengemisnya. Aku tak memiliki sedikitpun keinginan untuk beradaptasi dengan tradisi dan kemuliaan palsumu. Aku ingin hidup dengan antusiasme yang murni, seperti udara kebebasan yang bersih. Jalan-jalanmu yang tersusun rapi menganggu penglihatanku dan keseragaman bangunan-bangunanmu membuat darahku mendidih tak sabar. Dan semua itu sudah cukup bagiku. Aku akan mengikuti jalanku sendiri, sesuai keinginanku, merubah diriku tanpa ragù, dan aku tak ingin menjadi sama seperti sekarang pada keesokan hari. Aku akan pergi tanpa mengekang sayapku. Aku adalah amoral. Aku berjalan ke depan, selamanya, dibekali dengan hasrat yang membakar untuk mempersembahkan diriku pada dunia, pada orang pertama yang menemuiku, pada setiap petualang yang compang- camping, namun tidak pada manusia-manusia sok bijak yang akan membatasiku. Takkan pernah kuserahkan dirikku pada doktrin-doktrin sempit dengan aturan-aturan dan dogmanya. Aku bukan intelektual, Aku adalah manusia-seorang perempuan yang merasakan getaran di dalam dirinya seperti impuls alam dan kata-kata cinta. Aku membenci setiap belenggu, setiap batasan; aku lebih memilih untuk terus berjalan, sesukaku, membiarkan sinar matahari menyentuh kulitku. Dan kau tahu, pak tua, aku akan berdansa ketika masyarakatmu dengan mesin-mesinnya hancur berkeping-keping. Karena aku sama sekali tidak takut akan kehancuran, Aku memiliki dunia baru di dalam hatiku, yang akan bersemi ketika setiap bangunan dan fondasi dari kepicikan masyarakatmu berubah menjadi abu. “

Pak Tua melongo keheranan mendengar gadis kecil itu, “Siapakah kau, wahai gadis kecil, yang mempesona seperti misteri dan liar seperti insting?” tanya dengan kuriositas tingkat dewa.

“Akulah Ubermencsh, manusia sublim”. Gadis kecil-pun pergi dengan menari yang tiap gerakannya penuh keyakinan diri untuk mencintai hidup sepenuhnya.

Design by Zahra
📲 Instagram : @hmanpnup
📬 Twitter : @hmanpnup
🎥 Youtube : HMANPNUP
🌐 Website : www.hmanpnup.or.id
______________
UKH JURNALISTIK
HMAN PNUP 2021 – 2022
#HidupiHidup
#HMANPNUP
#HMAN
#PNUP
#FAMILYFOREVER

Warning: A non-numeric value encountered in /home/u5829455/public_html/hmanpnup.or.id/wp-content/themes/berita2/includes/wp_booster/td_block.php on line 353

4 COMMENTS

  1. A surprising fact is that 4 out of 5 job postings (and particularly just about 100 of the highest-paying employment), are only available via the “hidden” career market. Thus the secret to rocketing your pay level, is to find out the most frequent reasons the best jobs are available only via this little-known job market, rather than the pitiful public or online employment market.

LEAVE A REPLY