Home PRESS RELEASE KELAS PEDAS “SEJARAH PERGERAKAN PEREMPUAN

KELAS PEDAS “SEJARAH PERGERAKAN PEREMPUAN

338
1
SHARE

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatu, Shalom, Om Swastiastu, Namo Buddhayana, dan Salam Sejahtera.

“Salam Mahasiswa”

“Salam Pergerakan”

“Salam Family Forever”

Soal perempuan dari sejak zaman kuno hingga zaman post modern, tentu tidak pernah lepas dari soal-soal perempuan dan perannya dalam masyarakat, sama halnya dengan kaum laki-laki. Sama halnya dengan sistem patriarki (patriarki liar versi Bung Karno), perempuan juga tidak mempunyai kemerdekaan dan hanya dijadikan sebagai mutiara oleh kaum laki-laki. Sampai akhirnya, kebebasan perempuan untuk berkarier sama seperti laki-laki malah diabaikan. Justru posisi perempuan hanya ditempatkan untuk mengurus persoalan domestik.

Atas kondisi tersebut, timbullah kesadaran bagi kaum perempuan untuk menuntut hak yang sama dengan kaum laki-laki. Seperti kaum laki-laki dapat bekerja dan berkarier, perempuan pun mesti dapat merasakan hal yang demikian.

Apasih perbedaan dari perempuan, wanita dan betina :

  • Perempuan : orang yang mempunyai vagina, dapat menstruasi, hamil dan melahirkan anak.
  • Wanita : perempuan dewasa.
  • Betina : batina (jawa kuno), perempuan yang biasa digunakan untuk binatang.

 

Masa Colonial (sebelum 1945). Pada masa itu, muncul tokoh-tokoh perempuan di daerah-daerah yang aktif melawan penjajah untuk meraih kemerdekaan. Misalnya, seperti halnya di aceh ada Cut Nya Dien (komandan perang aceh) dilanjutkan perjuangan Cut Mutia. Ratu Sima (618) menjadi pemimpim perempuan yang jujur di Jateng, selain itu ada juga RA Kartini yang kita kenal sebagai tokoh emansipasi perempuan Indonesia. Kebangkitan gerakan perempuan pada masa kolonial semakin terasa di tahun 1928 dengan diselenggarakannya kongres Perempuan 1 (22-25 Desember) di Yogyakarta dengan tujuan memperjuangkan hak-hak perempuan terutama dalam bidang pendidikan dan pernikahan.

Pada masa pasca kolonial 1945-1966, gerakan perempuan semakin mewarnai kemerdekaan bangsa Indonesia. Kala itu muncul PERWARI (Persatuan Wanita Republik Indonesia) yang terbentuk tanggal 17 Desember 1945. Sewaktu berlangsung perang, kegiatan PERWARI merupakan kegiatan “homefront”, mengurus dapur umum dan membantu PMI. Setelah perang kemerdekaan reda, PERWARI menggiatkan diri dalam mengisi kemerdekaan dengan memusatkan perhatiannya dalam bidang pendidikan.

Sementara pada masa orde baru (1967-1998), Gerakan perempuan seolah-olah mati bahkan dimatikan dengan munculnya organisasi-organisasi bentukan pemerintah, seperti Dharma Wanita yang isinya istri-istri PNS, kemudian ada PKK yang isinya istri-istri pejabat. Organisasi-organisasi tersebut memainkan perannya bahwa kewajiban perempuan itu adalah mengerjakan urusan-urusan domestik dalam istilah yang saat ini populer adalah “macak, manak, masak”, “Manut ing Pandum” dan “Konco Wingking”.

Orde Baru memberikan dukungan dana kepada organisasi-organisasi wanita sehingga dengan kata lain organisasi-organisasi wanita dipaksa mendukung tujuan pembangunan pemerintah. Sehingga organisasi perempuan tidak dapat bergerak dan melakukan perlawanan, sulit karena sudah tercipta hubungan patron-klien. Lagipula penyadaran yang ada mudah dibungkam dan menyuarakan pendapat bahkan dapat dikatakan sebagai tindakan subversif karena bertentangan dengan pemerintah. Bagi kaum wanita, ini berarti hilangnya otonomi secara nyata. Mereka dipaksa tunduk dan siapapun yang melakukan perlawanan akan dihilangkan dan bahkan dibunuh.

Resume by Thahira

Design by Ince Nurfadilah

📲 Instagram : @hmanpnup
📬 Twitter : @hmanpnup
🎥 Youtube : HMANPNUP
🌐 Website : www.hmanpnup.or.id
_____________
DEPARTEMEN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN
HMAN PNUP 2021 – 2022

#HMANPNUP
#HMAN
#PNUP
#FAMILYFOREVER


Warning: A non-numeric value encountered in /home/u5829455/public_html/hmanpnup.or.id/wp-content/themes/berita2/includes/wp_booster/td_block.php on line 353

LEAVE A REPLY