Home PRESS RELEASE SISTEM KOMPEN POLTEK, ADIL ATAU TIDAK?

SISTEM KOMPEN POLTEK, ADIL ATAU TIDAK?

352
0
SHARE

Kompen merupakan sebuah sistem yang diperuntukan untuk mahasiswa(i) yang berkuliah di Politeknik Negeri Ujung Pandang ketika tidak menghadiri jam perkuliahan. Kompen yang dimaksudkan ialah berbentuk kerja fisik maupun nonfisik sesuai dengan berapa waktu ketidakhadiran mahasiswa yang sudah tertera dalam Peraturan Akademik Pasal 24 ayat 1 tentang ketidakhadiran yang tidak diizinkan yang menyatakan bahwa Tidak hadir tanpa izin dan keterlambatan hadir akan dikenakan peringatan lisan maupun tertulis dengan sanksi kompensasi sebagai berikut:

Ketidakhadiran Sanksi/Kompensasi
≤ 1 jam pelajaran

1 jam < A < satu hari

Satu hari

Sakit tanpa surat keterangan dokter

Izin tanpa persetujuan resmi dari PNUP

4 jam

Satu hari

2 hari

1 kalinya

1 kalinya

 

Kompen menurut penuturan beberapa dosen, bertujuan untuk memberikan efek jera bagi mahasiswa PNUP agar mereka rajin masuk saat  jam perkuliahan. Lantas yang jadi pertanyaan, sudah adilkah sistem kompen yang diterapkan? Ataukah justru itu hanya akan menguntungkan satu pihak saja? Mari kita simak diskusi teman-teman yang tertuang pada forum Arisan Wacana Jumat, 22 Maret 2019.

Wacana mengenai adil tidaknya sistem kompen di kampus kita tercinta menuai berbagai komentar dari kedua pihak (pro dan kontra).

Saudari Vivi dari pihak kontra menyatakan bahwa, Pada kenyataannya setiap semester justru tambah banyak yang kena kompensasi. Jadi, saya rasa sistem kompen tidak memberikan efek jera dalam kata lain, ini belum efektif dan maksimal. Sanksinya terlalu ringan.

Saudara Idil dari pihak yang sama juga menyatakan bahwa, “Kompen adalah balas jasa. Penerapannya tidak tepat. Sanksinya pun menyimpang dari arti kompen sebenarnya”

Dari pihak pro, Saudara Alam juga mengemukakan pendapatnya, “Aturan ini sudah ada jauh sebelum kita ada. Kita tidak bisa semena-mena merubah aturan ini. Kompensasi itu penilaian kumulatif sanksi. Kampus adalah milik negara. Kompensasi ini tanggungjawab kita untuk menjaga infrastruktur. Saudari Vivi tadi menyatakan bahwa penerapan sistem kompen belum maksimal. Berarti secara tidak langsung Saudari mengiyakan keadilan sistem ini namun dari segi penerapannya yang belum tepat.

Saudara Jeremi dari pihak yang sama juga menambahkan bahwa, “Sejak dahulu poltek ini terkenal dengan kedisiplinannya. Kompen ini menjadi salah satu bentuk kedisiplinan karena bisa menyadarkan pribadi agar merasa jera.

Saudara Jun merasa tidak setuju dengan pernyataan Saudara Jeremi bahwa kompen dapat menyadarkan pribadi agar merasa jera sebab dirinya sendiri tidak merasa jera. Saudara Jun juga mempertanyakan dimana letak keadilan sistem kompen itu “Kenapa hanya mahasiswa yang dikenakan kompen, kenapa dosen tidak. Saya merasa tidak adil dengan itu. Mereka yang tidak hadir, kami yang disusahkan untuk mencari pergantian dan mereka tidak dikenakan kompen”

Sebagian orang mempertanyakan mengenai keadilan tersebut, namun perlu kita ketahui bahwa kompen ini sasarannya mahasiswa bukan dosen dan regulasinya pun dibuat untuk mahasiswa.

Saudara Fiko dari pihak pro menyatakan bahwa “sistem kompen itu sudah adil, namun regulasi dan pelaksanaan sistem kompen tersebut yang tidak adil

Ketika kita berbicara mengenai sistem yang merupakan elemen-elemen yang saling terikat dalam artian penerapan, administrasi dan sebagainya itu sudah termasuk dalam suatu sistem kompen. Jadi kita tidak bisa memandang hanya dalam satu sisi saja.

Saudara Alam dari pihak yang sama menyatakan bahwa “Sistem kompen ini adil dan  punya hak masing-masing. Tidak ada bebas yang sebebas bebasnya. Kita tidak bisa terlepas dari yang namanya aturan. Kompen untuk memperbaiki. Ketika melanggar kita harus terima konsekuensinya.”

Saudara Agung membantah pernyataan dari Saudara Alam ia menyatakan bahwa “Dimana letak keadilannya ketika saya langsung kena SP3 tidak ada sebelumnya SP1. Lebih memilih nonfisik daripada fisik.”

Saudara Diko dari pihak pro menyatakan bahwa: “Sistem kompen itu adil seperti bayar utang. Kita tidak masuk, tanggungjawab kita yah membayar utang tersebut dengan kompen

Pernyataan dari saudara Diko dibantah oleh Saudara Reyhan, ia menyatakan bahwa “Saya merasa sistem kompen tidak adil karena membayar kompen seperti membayar utang, ada bunga dan menjadi ajang pamer antar mahasiswa.

Menurut Saudara Fiko “Kompensasi harus dilakukan. Harus diikuti karena merupakan aturan dari poltek sendiri.”

Laluu ditambahkan dengan Saudara Jeremi yang berada dipihak yang sama, ia menyatakan bahwa “Seharusnya merasa adil, karena ketika kita tidak hadir, ada pergantian yang mengatasi dan tidak menjadi sebuah kerugian karena kita bisa mendapatkan ilmu dari dosen di jam yang tidak wajib.”

Saudara Rafli menyatakan bahwa “Asal muasal kompen terjadi, dari hubungan mahasiswa dengan dosen. Penyebab terjadinya kompen dari dosennya sendiri. Dosen yang terbiasa terlambat dosen, menghegemoni mahasiswa. Maka membentuk budaya terlambat di sisi mahasiswa.”

Setelah peserta mengemukakan berbagai pendapatnya mengenai keadilan sistem kompen ini. Selanjutnya, adapun solusi yang diberikan oleh beberapa peserta mengenai masalah ini ialah sebagai berikut:

Saudara Alam dari pihak  pro mengemukakan bahwa “Solusinya pertahankan kompen, tingkatkan kesedaran diri, bentuk objeknya bukan system

Saudara Al dari pihak kontra mengemukakan bahwa “Kompen dihapuskan saja, lalu perbaiki kontrak dengan dosen”

Beberapa peserta yang lain juga menyatakan solusi mengenai permasalahan ini, sebagian besar dari mereka mengatakan bahwa perlunya diadakan sosialisasi mengenai sistem kopen ini di kampus kita, agar semua mahasiswa(i) mengerti dengan alur sistem kompen in.

 

Berdasarkan diskusi peserta forum menegenai sistem kompen dapat disimpulkan bahwa aturan tetaplah aturan, meski kita tahu bahwa setiap orang memiliki sikap dan perilaku yang berbeda-beda. Ada yang dengan senang hati menerima peraturan tersebut dan tidak keberatan atas peraturan tersebut. Dan ada pula orang yang bersikap memberontak, mereka merasa bahwa peraturan tersebut tidak relevan dan tidak sesuai dengan dirinya.

 

LEAVE A REPLY