PRO DAN KONTRA PEMBATALAN PIALA DUNIA FIFA DI INDONESIA

[PRO DAN KONTRA PEMBATALAN PIALA DUNIA FIFA DI INDONESIA]

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, shalom, Om Swastiastu, Namo Buddhayana dan Salam Sejahtera
“Salam Mahasiswa”

“Salam Pergerakan”

“Salam Family Forever ”

FIFA WORLD CUP atau Biasa di sebut Piala Dunia FIFA adalah kompetesi Sepak Bola Internasional yang diikuti oleh tim nasional Putra senior anggota Federasi Sepak Bola Internasional ( FIFA ), merupakan badan pengatur sepak bola dunia. FIFA idealnya menjadi naungan bagi seluruh organisasi sepak bola di setiap negara anggota.

Piala Dunia adalah Laga sepakbola Paling bergengsi didunia, dan merupakan acara olahraga yang paling banyak digemari di dunia. Piala dunia juga merupakan kompetensi terpenting dalam dunia sepakbola internasional. Kompetisi ini diselenggarakan setiap empat tahun sekali sejak tahun 1930.

Adapun sejak pertama kali digelar pada tahun 1930 hingga tahun 2022 telah ada 18 negara yang berhasil menjadi tuan rumah penyelenggaraan Piala Dunia. Dari 18 negera tersebut ada yang sudah menjadi tuan rumah sebanyak dua kali, yaitu Brasil ( 1954 & 2014 ), Italia ( 1934 & 1990 ), Perancis ( 1938 & 1998 ), Meksiko ( 1970 & 1986 ), dan Jerman ( 1974 ( saat masih jerman barat ) & 2006 ). Selain itu ada juga 2 negara yang menjadi tuan rumah secara bersama, yakni jepang dan korea selatan (2002). Dan pada tahun 2023 indonesia di tunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia FIFA U20. Akan tetapi pada Rabu 29 maret 2023, FIFA menyatakan batal menggelar Piala Dunia di Indonesia dengan alasan “Situasi Terkini”.  Hal ini menuai banyak pro dan kontra dari masyarakat, apalagi alasan pembatalan ini dikait-kaitkan dengan Indonesia yang menolak timnas Israel untuk ikut bertanding di Indonesia.

Ada beberapa alasan Indonesia menolak kedatangan timnas Israel di Indonesia, alasan yang paling mendasar dikaitkan dengan konsitusi negara UUD 1945 pada alinea pertama yang mengatakan bahwa “… penjajahan di atas dunia harus dihapuskan …” masyarakat yang menolak kedatangan timnas Israel beranggapan dan berpegang teguh pada konstitusi ini, masyarakat merasa mengkhianati konstitusi apabila membiarkan timnas Israel yang membawa nama negara yang notabenenya merupakan penjajah untuk masuk ke negara Indonesia.

Pertentangan ini pun diperkuat oleh organisasi-organisasi Islam yang menolak dengan keras kedatangan timnas Israel melalui rapat yang dilakukan MUI pada tanggal 18 Maret 2023. Berdasarkan banyaknya pertentangan yang timbul dari wacana kehadiran timnas Israel dikhawatirkan akan menimbulkan disentegrasi bangsa karena menghadirkan banyak kontra dari masyarakat.

Tidak hanya berlandaskan konstitusi dan khawatir disentegrasi, namun penolakan timnas Israel di Indonesia pun menurut berbagai pandangan yang tidak setuju berlandaskan asas dan rasa kemanusiaan kepada masyarakat Palestina yang telah dijajah oleh Israel. Sebagai negara dengan mayoritas muslim yang tinggi, masyarakat Indonesia dengan tegas menolak kedatangan tim penjajah saudara seiman yang tidak berpri kemanusiaan di negara ini.

Di luar dari itu, ada juga masyarakat yang menyanyangkan dan kecewa terhadap keputusan Indonesia yang menolak timnas Israel sehingga hal ini dikait-kaitkan dengan kegagalan Indonesia sebagai tuan rumah dan kepesertaan di U20 FIFA.

Masyatakat yang kontra terhadap keputusan Indonesia yang menolak timnas Israel beranggapan bahwa komitmen kita sebagai negara kembali dipertanyakan dan berpotensi memalukan. Di sisi lain negara telah mengeluarkan begitu banyak anggaran hingga milyaran rupiah untuk persiapan sebagai tuan rumah FIFA U20. Namun kemeriahan dan banyaknya persiapan yang dilakukan untuk menyambut Piala Dunia tersebut harus pupus. Bahkan, adapula yang mengaitkan penolakan ini dari segi kepentingan politik yang notabenenya politik dan olahraga harus dipisahkan.

Warga yang pro dan menerima kehadiran Timnas Israel ini meminta agar tetap professional dan  mengesampingkan kepentingan, serta memikirkan nasib pemain Timnas Indonesia yang terancam diberikan sanksi administratif dan tak bisa berlaga di kompetisi internasional lainnya seperti Piala Asia bahkan sanksi terberat adalah dilarang bermain di turnamen resmi FIFA.

Masyarakat yang kontra dengan pembatalan FIFA U20 di Indoensia juga beranggapan bahwa dengan di gelarnya Piala Dunia di Indonesia akan meningkatkan sektor ekonomi negara dimana UMKM masyarakat di sekitar stadion akan sangat meningkat dari segi penjualan. Selain itu dari segi sektor pariwisata, Indonesia akan kembali terangkat setelah dilaksanakannya G-20 di mana Indonesia juga menjadi tuan rumah. Sehingga dari beberapa alasan yang positif bagi citra Indonesia, sangat disayangkan U20 gagal dilaksanakan di Indonesia apalagi jika dikaitkan dengan keputusan penolakan timnas Israel di Indonesia.

Dari kasus ini, sebenarnya bisa kita lihat bagaimana peran dua kepentingan nasional menemukan titik nadinya. Kemunculan faksi pro dan kontra tidak bisa terhindarkan dan membuat masyarakat terbelah. Singkat kata, maju kena mundur kena.

Maka penting bagi Indonesia untuk melihat dampak dari kebijakan yang diambil. Hal ini ditempuh guna mengurangi risiko yang ditimbulkan baik dari sisi politis, ekonomis, dan sosial. Pemerintah harus menetapkan kepentingan nasional yang jelas, dan tetap menjalankan amanat undang-undang, serta berpegang pada Gerakan Non-Blok. Itulah rambu-rambu kita dalam bernegara.

Bagaimana dengan kalian? Apakah setuju atau menolak keputusan Indonesia?

Resume By : Miranda

DEPARTEMEN PENGADERAN
HMAN-PNUP 2022-2023

#ArisanWacana

#HMANPNUP

#HMAN

#PNUP

#FAMILY FOREVER

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

11 views